Upaya pemerintah mendorong hilirisasi sawit dinilai membuka peluang besar bagi pengembangan usaha kecil, mikro, dan koperasi (UKMK). Ratusan produk turunan sawit bernilai tambah dinilai dapat menjadi ladang bisnis baru bagi pelaku usaha lokal di berbagai daerah.
Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang Perkebunan di Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, R. Azis Hidayat, dalam workshop bertema inovasi produk sawit yang digelar di Kota Depok. Menurutnya, data Kementerian Perindustrian menunjukkan terdapat lebih dari 200 produk hilir sawit yang bisa dikembangkan, mulai dari sabun, bahan pembersih, kosmetik, hingga produk pangan dan oleokimia.
Azis menjelaskan bahwa potensi turunan sawit dapat dilihat melalui konsep 5F, yakni Food, Feed, Fuel, Fiber, dan Farmasi. Dari satu komoditas ini dapat dihasilkan berbagai produk, seperti minyak goreng, margarin, bahan bakar nabati, pelumas, serat tekstil, hingga material industri. Ia menekankan bahwa hampir seluruh bagian buah sawit memiliki nilai ekonomi, mulai dari daging buah hingga limbah tandan dan cangkang.
Ia juga menyoroti fakta bahwa sekitar 42 persen kebun sawit di Indonesia dimiliki petani rakyat. Karena itu, penguatan UKM dan koperasi menjadi faktor penting agar nilai tambah industri tidak hanya berhenti di sektor hulu.
Dari sisi pembiayaan, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM di Badan Pengelola Dana Perkebunan, Helmi Muhansyah, menyampaikan bahwa dana pungutan ekspor sawit yang mencapai triliunan rupiah setiap bulan dialokasikan kembali untuk pengembangan sektor, termasuk mendukung pelaku UKMK. Ia menambahkan bahwa lembaganya juga menjalankan program beasiswa bagi anak pekerja sawit sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia industri.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Depok, Mohamad Thamrin, mengaku forum tersebut membuka perspektif baru mengenai luasnya pemanfaatan sawit. Menurutnya, produk berbasis sawit ternyata hadir dalam banyak kebutuhan sehari-hari masyarakat, dari produk kebersihan hingga kosmetik dan makanan.
Dilansir dari Jurnas.com, data BPS Kota Depok menunjukkan sektor UKMK menyumbang sekitar 60 persen produk domestik regional bruto kota tersebut, dengan lebih dari seratus ribu unit usaha mikro yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi berbasis sawit berpotensi langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi lokal.
Pemimpin Redaksi Majalah Hortus Archipelago, Suharno, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara pemerintah, industri, media, dan pelaku usaha. Ia berharap forum semacam ini dapat memicu lahirnya ide bisnis baru dan memperkuat daya saing UKMK di daerah.
Sebagai lanjutan kegiatan, peserta dijadwalkan melakukan kunjungan ke Surfactant & Bioenergy Research Center untuk melihat langsung proses riset dan pengembangan produk turunan sawit. Kunjungan tersebut diharapkan dapat memperkaya wawasan pelaku usaha mengenai inovasi berbasis komoditas sawit dan peluang pengembangannya di masa depan.
