Bali (ANTARA) – Direktur Godrej Internasional, Dorab Mistry, menyatakan bahwa Indonesia memiliki peran sentral dalam menentukan harga minyak nabati dunia. Dorab Mistry mengungkapkan hal ini dalam Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2023 yang diadakan di Bali pada hari Sabtu. Ia menjelaskan bahwa produksi kelapa sawit Indonesia sebagai eksportir terbesar dunia, ditambah dengan ancaman dampak El Nino, membuat reaksi Indonesia terhadap kondisi pasar sangat penting.

Menurut Mistry, harga minyak nabati untuk tahun 2024 dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perkembangan suku bunga The Federal Reserve System (The FED), kemungkinan resesi tahun 2024, berakhirnya perang di Ukraina dan Gaza, serta perkembangan harga dolar Amerika Serikat. Namun, ia juga menekankan bahwa jumlah pasokan minyak nabati, keberadaan El Nino, mandatori biofuel di Indonesia dan negara lain seperti Brazil, serta kebijakan subsidi biofuel dari calon Presiden Amerika Serikat, akan sangat mempengaruhi kebutuhan minyak nabati secara global.

Thomas Mielke, seorang peneliti minyak nabati global dari Oil World, mengatakan bahwa produksi kelapa sawit dunia diprediksi akan mengalami penurunan selama 10 tahun ke depan, dengan rata-rata hanya 1,7 juta ton per tahun hingga tahun 2030. Hal ini berbeda dengan periode sebelumnya, yaitu antara tahun 2010 hingga 2020, di mana terjadi kenaikan produksi rata-rata sebesar 2,9 juta ton. Sementara itu, konsumsi minyak nabati global terus meningkat secara signifikan selama 10 tahun terakhir, terutama untuk kebutuhan makanan, energi, dan oleokimia.

Thomas menjelaskan bahwa dengan prediksi ini, diperkirakan akan terjadi defisit produksi global pada tahun 2024, yang kemudian akan menyebabkan kenaikan harga minyak nabati. Ia juga menyebutkan bahwa kelapa sawit Indonesia telah menyumbang 54 persen dari ekspor dunia, namun penurunan produksi kelapa sawit mengakibatkan daya saing minyak nabati Indonesia di pasar global semakin memburuk. Thomas memprediksi bahwa penurunan ekspor masih akan terjadi selama dua tahun ke depan seiring dengan turunnya produksi kelapa sawit Indonesia.

Thomas juga menjelaskan bahwa sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan lemak dunia digunakan untuk sektor energi terbarukan, seperti biodiesel, sementara sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan lainnya. Produksi biodiesel pada tahun 2023 diperkirakan akan meningkat hingga 57 juta ton, dan sebanyak 10,5 juta ton di antaranya adalah produksi biodiesel Indonesia.

Nagaraj Meda, CEO dan Pendiri Transgraph, juga menyatakan bahwa peningkatan konsumsi industri minyak nabati secara global didorong oleh Amerika Serikat dan Indonesia. Menurutnya, kebijakan Indonesia untuk melanjutkan implementasi biodiesel B35 dan meningkatkannya menjadi B40 pada tahun 2024 akan meningkatkan konsumsi minyak kelapa sawit hingga 12,45 juta metrik ton, serta meningkatkan investasi dalam energi terbarukan. Hal ini juga akan meningkatkan konsumsi minyak nabati di Amerika Serikat.

Meda menyarankan agar pemerintah Indonesia mempertimbangkan kembali rencana implementasi B40 mengingat tren penurunan produksi, dan lebih fokus pada pendanaan program peremajaan kebun untuk meningkatkan produksi nasional.

sumber: https://www.antaranews.com/berita/3807444/indonesia-jadi-titik-sentral-faktor-penentu-harga-minyak-nabati-dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *