PALEMBANG – Upaya pemerintah mendorong pertumbuhan perkebunan kelapa sawit hampir di seluruh daerah, sepertinya cukup beralasan.

Data dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit menunjukan angka dari enam negara penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia, ternyata Indonesia berada di posisi pertama, setelah itu peringkat kedua disusul Malaysia.

Direktur Kemitraan BPDP Indonesia, Hendradajat Natawidjaja, dengan pernyataan yang menyakinkan menyebutkan kelapa sawit termasuk dari tujuh komoditas yang diunggulkan.

Bahkan berada di posisi teratas, setelah itu barulah komoditas kelapa, karet, kopi, kakao, tebu dan tembakau.

“Dari tujuh komoditas yang diunggulkan, kelapa sawit relatif lebih baik dan stabil,” katanya, Kamis (7/12/2017), saat menjadi pembicara di Forum Media Sawit Lestari (Formasi) di Palembang.

Dari data yang dipaparkan, kelapa sawit tidak hanya menjadi raja di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Untuk saat ini saja, CPO yang dihasilkan Indonesia sebanyak 32 juta metric ton (MT), Malaysia (17,7 juta MT), Thailand (2,1 juta MT), Colombia (1,2 juta MT), Nigeria (970 ribu MT ) dan beberapa negara penghasil CPO rata-rata memberikan kontribusi 4,7 juta MT.

Dengan data itu, secara keseluruhan market share produksi CPO Indonesia di dunia mencapai 64 persen.

“Dampak ekonomi industri sawit berperan penting dalam perekonomian Indonesia . Dari sudut penyerapan tenaga kerja cukup besar, angkanya mencapai 4,2 juta orang kerja secara langsung,” tuturnya.

Namun demikian, Hendradajat tidak menapik dalam perkembangan perkebunan kelapa sawit ada persoalan dan konflik tumpang tindih lahan di masyarakat, isu lingkungan dan kebakaran lahan.

“Kalau menang tidak baik, kita harus benahi dan selesaikan. Tapi jangan sampai yang baik dikatakan tidak baik. Memang tidak semua pemilik kebun sawit itu baik,” katanya.

 

Sumber: Palembang.tribunnews.com