Pekanbaru, Gatra.com – Uji coba Biodiesel(B)50 itu belum terlalu lama, Januari tahun lalu. Satu dari dua unit Innova automatic keluaran 2018 yang sama-sama bersilinder 2.4, dicekoki B50 dan satu lagi B20.

Kedua mobil ini digeber Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan Sumatera Utara (Sumut) dari kantornya menuju kawasan Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Bogor Jawa Barat (Jabar) dan balik lagi ke Medan. Kalau dihitung-hitung, dua Innova tadi sudah melintasi jalanan sejauh 5000 kilometer.

Hasilnya, Fitback Injection Innova yang memakai B50 masih stabil, masih di angka 0,0. “Artinya, enggak ada kotoran pada injection meski sudah menempuh jarak 5000 kilometer,” kata Teknical Leader Auto2000 Amplas Medan, Andiarto. Kebetulan dua mobil itu diservice di sana, setelah sampai lagi di Medan.

B50 yang dipakai Innova tadi, untuk 100 liter, butuh campuran 37,5 liter biodiesel (B100) dan 62,5 liter biodiesel komersil (B20).

B50 ini sudah punya Cetane Number (CN) 60, jauh di atas CN yang disyaratkan oleh Standard Nasional Indonesia (SNI), 51. Lantas, B50 ini tahan pada suhu minus dua derajat celcius.

Lantas, untuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) nya, B50 bisa mencapai 99 persen massa, padahal SNI hanya mensyaratkan 96,5 persen massa.

Pertengahan bulan lalu, Pertamina juga melakukan uji coba. Namanya D100 alias Green Diesel. Bahan bakar diesel ini diolah dari Crude Palm Oil (CPO) memakai teknologi Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO).

Habis itu diolah lagi pakai katalis “Merah Putih” dengan teknologi Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA). Pertamina kemudian menyebut kalau hasil akhir dari semua proses itu adalah Green Diesel dan ini yang pertama di Indonesia.

Hanya saja, pada Innova keluaran 2017 yang dijadikan kendaraan uji coba untuk menempuh jarak 200 kilometer itu, Pertamina justru membikin campuran 30 persen FAME, 50 persen Dexlite dan 20 persen D100.

Sayang, lebih dari sepeken Gatra.com melayangkan pertanyaan seputar campuran uji coba tadi, berapa duit yang dihabiskan untuk menghasilkan satu liter D100 dan se ekonomis apa D100 itu, Pertamina tak kunjung memberikan jawaban.

Tapi kemudian, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga mengatakan, proses produksi D100 di kilang Pertamina Dumai menggunakan bahan baku RBDPO lantaran kilang di sana tidak didesign untuk tahan asam.

“Proses produksinya pada tekanan yang sangat tinggi supaya injeksi Hidrogen yang dimasukkan dengan mudah menarik molekul O dan H dari dalam minyak sawit. Jadi, tinggallah elemen gugus C dan H. Itulah makanya hasilnya sama dengan solar minyak bumi yang juga mengandung C dan H,” katanya kepada Gatra.com pekan lalu.

Bedanya dengan solar kata Sahat, CN D100 berada di angka 79. Sementara solar yang biasa dibeli di SPBU, CN nya cuma 55.

“Biar bisa dipakai di mobil solar yang umum di jalanan CN D100 ini diturunkan. Itulah makanya dicampur dengan FAME dan Dexlite. Kalau CN nya enggak diturunkan, enginenya bisa meledak,” terangnya.

Sahat juga menyebut kalau memproduksi FAME tidak sama dengan D100,”Katalisnya dan prosesnya beda. Membikin FAME, itu menambahkan metanol ke dalam minyak sawit memakai katalis Na-methoxide. Itulah makanya disebut bahan bakar oxygenate. FAME ini menghasilkan produk samping bernama glycerine. Sementara D100, menambahkan Hidrogen untuk membuang oxygenate nya. Produk sampingnya adalah LPG dan Air,” Sahat merinci.

Bagi Sahat, munculnya D100 adalah menjadi bukti bahwa Indonesia tidak lagi perlu mengeluarkan duit sekitar $US 450 juta-500 juta untuk membeli peralatan kilang D100 dari luar negeri.

“Indonesia sudah menunjukkan kemampuan yang mandiri dan menguasai teknologi katalis untuk menghasilkan D-100 itu. Ini sudah cukup bagi Indonesia untuk membuktikan ke dunia luar kalau Pemerintah mau mendukung kemampuan bangsa sendiri, untuk membuat rancang-bangun kilang hydrotreating seperti yang di Dumai, untuk menghasilkan D100,” ujarnya.

Hanya saja Researching Of Engineering & Environmental Management Technology PPKS Medan, Muhammad Ansori Nasution menyebut, secara teknologi, Indonesia pasti bisa membikin D100 lantaran di luar negeri, sudah ada perusahaan yang bisa membikin itu, katakanlah Neste Oil yang berbasis di Espoo, Finlandia.

“Katalis juga bisa kita bikin. Tapi secara kajian ekonomi, D100 itu dipertanyakan. Sebab sebesar Neste saja masih mengejar insentif dari PBB. Insentif itu dikejar dengan alasan telah bisa menurunkan emisi carbon. Mengejar insentif ini mengindikasikan kalau membikin Green Diesel itu hight tech dan mahal. Makanya membikin refinery minyak bumi pun, berat. Biodiesel saja yang cukup murah, masih kempang kempis, masih butuh insentif,” katanya kepada Gatra.com, Selasa (4/8).

Tapi meski harus mengeluarkan insentif untuk membikin biodiesel tadi kata doktor jebolan University Of Tsukuba Jepang ini, minimal duit Indonesia enggak meluber keluar negeri untuk membeli solar.

“B50 sudah kita coba, enggak ada masalah. Malah lebih bagus dari Dexlite. Kalaupun ada masalah, paling pada filter minyak mobil. Kalau pakai B50, filter harus karet sintetis, tidak karet alami. Kewajiban vendor mobil lah menyesuaikan diri. Ini bargaining bagi Indonesia. Alhamdulillah, sampai sekarang saya pakai B50, apalagi saat keluar kota,” katanya.

Lantas kenapa B50 terkesan senyap? “B50 bukan terkendala pada teknis, tapi justru bahan baku. Produksi CPO kita hanya 46 juta ton pertahun. Kalau B50 dipakai, kita butuh CPO 15 juta ton pertahun. Ini sama dengan sekitar separuh dari jumlah CPO yang diekspor. Kalau B50 segera diberlakukan, harga CPO Indonesia akan aman dan ini akan sangat berdampak positif kepada petani,” ujarnya.

Membikin Biodiesel kata lelaki 42 tahun ini, tidak serumit dan semahal membikin D100. “Sejak tahun ’90 an kami sudah punya pabrik biodiesel. Sudah bisa memproduksi sekitar 3.300 liter perhari. Pabrik semacam ini bisa diadopsi petani kelapa sawit di seluruh Indonesia. Biodieselnya bisa dijual langsung ke kilang-kilang Pertamina yang ada. Tentu ini akan membikin petani naik kelas, enggak lagi hanya sekadar menjual Tandan Buah Segar (TBS),” katanya.

 

Sumber: Gatra.com