KELAPA SAWIT JADI ANDALAN SUMUT

 

MEDAN – Kelapa Sawit menjadi komoditas andalan Provinsi Sumatra Utara seiring dengan meningkatnya nilai perdagangan ekspor per Agustus 2021.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor Sumatra Utara per Agustus 2021 tercatat US$1,16 miliar atau naik 16,37% secara bulanan {month-to-month/MM) dibandingkan dengan Juli 2021 senilai US$993,84 juta. Jika dibandingkan dengan kinerja ekspor periode yang sama tahun lalu [year-on-year/YoY), perdagangan luar negeri Sumut pada Agustus 2021 mengalami peningkatan cukup signifikan yakni mencapai 69,38%.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatra Utara Aspan Sopian Batubara mengatakan ekspor golongan lemak dan minyak hewan/nabati pada Agustus tercatat US$563,6 juta atau naik 23,12% secara MtM. Aspan menambahkan bahwa peningkatan kinerja ekspor tidak lepas dari tingginya permintaan pasar luar negeri terhadap sejumlah komoditas andalan dari Sumatra Utara.

Menurutnya, kinerja ekspor pada masa pandemi Covid-19 justru mengalami peningkatan. “Produk-produk pertanian dan perkebunan kita diminati dan dibutuhkan negara-negara importisr,” kata Aspan kepada Bisnis, Selasa (12/10).

Aspan mendorong para petani dan pelaku usaha perkebunan untuk terus memacu produktivitas seiring dengan kian membaiknya kinerja perdagangan ekspor.

“Produk kami di tingkat petani kalau bisa terus ditingkatkan. Karena pemintaan dari negara-negara lain sedang baik-baiknya,” ujarnya.

Aspan berharap kinerja ekspor bisa terus ditingkatkan agar roda perekonomian Sumatra Utara yang sedang mengalami pemulihan akibat pandemi segera pulih.

Salah satu komoditas yang menjadi andalan ekspor Sumut adalah kelapa sawit. Per September 2021 sebanyak 102.000 ton Kelapa Sawit telah diekspor ke sejumlah negara yakni Rusia, China, Australia, Filipina, Algeria, Polandia, Georgia, Senegal, Yunani, Turki, Irak, Mesir, Vietnam dan Estonia.

Subkoordinator Insartek Karantina Tumbuhan Balai Besar Karantina Pertanian Belawan Sari Naru-lita Hasibuan mengatakan nilai ekonomis yang diraup dari ekspor komoditas Kelapa Sawit pada September 2021 mencapai Rpl,5 triliun.

“Minyak sawit menjadi komoditas pertanian paling banyak yang diekspor bulan lalu,” ujarnya kepada Bisnis.

Selain minyak kelapa sawit, komoditas pertanian penyumbang nilai ekonomis ekspor tertinggi pada September 2021 adalah kopi biji sebanyak 5.600 ton dengan nilai ekonomi mencapai sedikitnya Rp354 miliar. {Lihat Infografik)

HARGA TBS

Dalam perkembangan lain, Dinas Perkebunan Provinsi Riau menyatakan harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit sepekan ke depan mengalami kenaikan pada setiap kelompok umur kelapa sawit.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau Defris Hatmaja mengatakan jumlah kenaikan terbesar terjadi pada kelompok umur 10-20 tahun senilai Rpl54,17 per kg atau mencapai 5,39% dari harga minggu lalu.

“Harga pembelian TBS petani sawit untuk periode satu minggu ke depan naik menjadi Rp3.014,81 per kilogram,” katanya Selasa (12/11).

Defris menjelaskan bahwa naiknya harga TBS periode itu disebabkan oleh terjadinya kenaikan dan penurunan harga jual crude Palm Oil (CPO) dan harga kernel dari beberapa perusahaan yang menjadi sumber data.

Faktor yang memengaruhi di antaranya harga jual CPO PT PTPN V mengalami kenaikan harga Rp697,30/kg, PT Sinar Mas Group mengalami kenaikan harga Rp734,56/kg, PT Asian Agri mengalami kenaikan harga Rp692,46/kg, PT Citra Riau Sarana mengalami kenaikan harga Rp713,60 Ag dari harga minggu lalu.

Sementara untuk harga jual Kernel, PT Asian Agri Group meng- alami penurunan harga Rp20,00/ kg, PT Citra Riau Sarana mengalami kenaikan harga Rp257,91/kg dari harga minggu lalu.

Sementara itu, dari faktor eksternal yakni harga kontrak berjangka [futures] minyak sawit mentah selama sepekan ini melesat di Bursa Derivatif Malaysia mendekati level psikologis 5.000 ringgit Malaysia per ton.

Secara mingguan, harga CPO terhitung naik sebesar 10,2% dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu (4.505 ringgit Malaysia/ton). Penguatan sepekan ini melanjutkan tren pada pekan sebelumnya karena harga CPO juga menguat 1,4% secara mingguan dari level 4.441 ringgit Malaysia/ton.

Lebih jauh Defris menjelaskan bahwa kenaikan harga terjadi di tengah lonjakan permintaan komoditas dasar seperti minyak, gas, hingga batu bara menyusul ekspektasi pemulihan ekonomi global yang memengaruhi harga kelapa sawit.

Alhasil kenaikan harga energi dunia tersebut membuat harga CPO, yang menjadi bahan baku biodiesel, ikut menguat.

 

Sumber: Bisnis Indonesia