Pangkalan Bun – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyambut baik kerja sama perdagangan Indonesia dengan Rusia.

Kerjasama itu dinilai sebagai langkah tandingan dari kampanye negatif Eropa terhadap minyak sawit mentah (CPO) dari dalam negeri.

“Kerja sama dengan Rusia bisa meningkatkan promosi dan riset sehingga persepsi negatif terhadap sawit bisa berkurang,” kata Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan, di Jakarta, Senin (7/8/2017).

Ekspor sawit Indonesia ke Rusia juga terus berkembang dari tahun ke tahun. Pasar yang besar juga memperlihatkan Rusia sebagai pasar yang potensial.

“Kebutuhan Rusia akan minyak sawit terus meningkat,” papar dia.

Sedangkan Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, mengatakan minyak nabati produksi Eropa dan Amerika Serikat (AS) terus memojokkan sawit. Hal tersebut dianggap sebagai persaingan bisnis oleh Sahat dalam perdagangan global.

“Minyak nabati mereka akan selalu kalah persaingan dengan sawit,” ujar Sahat.

Meski terus dipojokkan oleh Eropa dan Amerika Serikat, ekspor sawit Indonesia tidak memperlihatkan penurunan. Berdasarkan data GIMNI, perkiraan ekspor 2017 akan naik 4,3% dari ekspor tahun lalu. Pada 2016, total ekspor sawit Indonesia 26,57 juta ton, sedangkan target 2017 ekspor sawit sebesar 27,72 juta ton.

Sebelumnya telah ada kerjasama (Memorandum of Cooperation (MoC)) yang dilakukan antara Indonesia dan Rusia. Perjanjian tersebut ditandangani pada 3 Agustus 2017. (NEDELYA RAMADHANI/m)

 

Sumber: Borneonews.com