A group of oil palm fruits on the white background

India merupakan salah satu negara dengan pasar minyak nabati yang besar di dunia. Hal ini dikarenakan populasi penduduk India merupakan yang terbesar kedua di dunia dengan jumlah penduduk mencapai 1.35 miliar jiwa pada tahun 2018.

Bahkan diperkirakan populasi India akan mengalahkan China dengan jumlah penduduk sebesar 1.64 miliar jiwa pada tahun 2045. Besarnya populasi pendudukjuga turut berimplikasi pada besarnya permintaan minyak nabati di India dan diprediksi akan terus mengalami peningkatan.

Sama seperti negara lain, India juga memiliki keterbatasan lahan terlebih didalamnya terdapat kompetisi penggunaan lahan yang menyebabkan pesatnya konversi lahan pertanian menjadi non pertanian (rumah, infrastruktur umum dan industri.

Sehingga hal ini berakibat pada terbatasnya peningkatan produksi minyak nabati di India. Permintaan minyak nabati yang besar dan tidak ditunjang dengan produksi dalam negeri yang mencukupi mengakibatkan impor minyak nabati merupakan jalan keluar yang tak bisa dihindari. Kehadiran minyak nabati impor menimbulkan kompetisi antar minyak nabati baik yang diproduksi domestik maupun impor.

Kompetisi antara minyak nabati di India ini dipengaruhi oleh harga dimana minyak nabati impor umumnya lebih kompetitif (murah) dibandingkan dengan produksi domestik. Pertumbuhan ekonomi India yang relatif cepat dalam 10 tahun terakhir, juga semakin membuat negara ini sangat bergantung terhadap minyak nabati impor.

Pemerintah India juga menghadapi dilema kebijakan. Di satu sisi, India memerlukan minyak nabati impor untuk memenuhi pemintaan minyak nabati yang sangat besar dan menutup kekurangan produksi domestik.

Di sisi Iain, kehadiran minyak nabati impor secara lambat laun akan .mengurangi peranan minyak nabati domestik dan menciptakan ketergantungan pada minyak nabati impor. Sehingga untuk meminimalisir ketergantungan impor dan melindungi minyak nabati domestik, pemerintah India membuat kebijakan “Make in India” dengan salah satu instrumen perdagangannya yakni menetapkan tarif yang tinggi untuk minyak nabati impor.

Minyak sawit merupakan salah satu minyak nabati yang diimpor oleh India karena permintaan domestik yang tinggi dan terus meningkat. Minyak sawit juga merupakan salah satu komoditas minyak nabati yang tidak terlepas dari kebijakan tarif impor yang tinggi, khususnya untuk produk olahan. Secara teoritis, tingginya tarif impor suatu produk akan mengurangi impor produk tersebut. Artinya penerapan kebijakan tarif impor minyak sawit yang tinggi tersebut akan mempengaruhi preferensi masyarakat India dalam mengkonsumsi minyak sawit. Perubahan preferensi tersebut dapat dideteksi dengan melihat perubahan pangsa sawit baik dalam impor minyak nabati maupun dalam struktur konsumsi minyak nabati India.

Produksi Minyak Nabati India

Minyak nabati yang diproduksi India bervariasi yakni sebanyak 10 jenis. Lima minyak nabati utama yang diproduksi di India adalah minyak rapeseed, minyak kedelai, minyak kelapa, minyak biji bunga matahari dan minyak sawit. Dalam rangka mengimplementasikan jargon India yakni “Make in India”, pemerintah India juga memberikan subsidi yang cukup besar terhadap pertanian termasuk minyak nabatinya.

Produksi minyak nabati India mengalami peningkatan meskipun relatif kecil yakni dari 5.14 juta ton tahun 2001 menjadi 5.5 juta ton tahun 2018 Dilihat dari rata-rata pangsa produksi selama periode tahun 2001-2018, menunjukkan bahwa minyak rapeseed adalah minyak nabati utama yang diproduksi oleh India dengan pangsa sebesar 36 persen. Pangsa produksi minyak nabati lainnya yakni minyak kedelai (36 persen), minyak kelapa (8 persen), minyak biji bunga matahari (6 persen), minyak sawit(2 persen) dan minyak nabati lainnya (24 persen).

India merupakan salah satu negara produsen minyak rapeseed terbesar di dunia, setelah Uni Eropa, China dan Kanada. Produksi minyak rapeseed India meningkat dari 1.5 juta ton tahun 2001 menjadi 2.13 juta ton tahun 2018. Pada tahun 2018, luas areal rapeseed mengalami peningkatan sehingga berimplikasi pada peningkatan produksi minyak rapeseed.

Minyak nabati lainnya yang banyak diproduksi di India adalah minyak kedelai dan minyak kelapa, yang juga mengalami peningkatan produksi selama periode tahun 2001-2018. Minya kedelai meningkat dari 792 ribu ton menjadi 1.62 juta ton, sedangkan peningkatan minyak kelapa dari 432 ribu ton menjadi 467 ribu ton.

Sedangkan produksi minyak biji bunga matahari mengalami penurunan dari 470 ribu ton menjadi 98 ribu ton. India juga menerapkan kebijakan produksi minyak nabati substitusi impor dengan mengembangkan produksi kelapa sawit di dalam negeri dengan dukungan subsidi hingga mencapai USD 1.5 miliar (PASPI, 2015).

Luas kebun sawit yang dikembangkan di India Selatan sekitar 1.9 juta hektar (PASPI, 2017). Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi permintaan dan ketergantungan impor minyak sawit yang besar.

Dampak dari pembukaan perkebunansawitadalah peningkatan produksi minyak sawit dari 35 ribu ton tahun 2001 menjadi 200 ribu ton tahun 2018.

Konsumsi India

Konsumsi minyak nabati India mengalami peningkatan yakni dari 9 juta ton tahun 2001 menjadi 22 juta ton tahun 2018 . Tren konsumsi minyak nabati India menunjukkan arah yang positif dengan rata-rata laju sebesar 5 persen per tahun.

Menurut USDA (2019), India merupakan negara dengan tingkat konsumsi minyak nabati terbesar ketiga setelah China dan Uni Eropa. Populasi penduduk yang besar dan pertumbuhan perekonomian India juga merupakan faktor pendorong utama konsumsi minyak nabati terus mengalami peningkatan.

Pangsa minyak nabati produksi domestik India dalam konsumsi minyak nabatinya mengalami penurunan dari 49 persen tahun 2001 menjadi 33 persen tahun 2018. Sedangkan peranan impor minyak nabati dalam konsumsi minyak nabati India, sebaliknya mengalami peningkatan dari 51 persen menjadi 67 persen pada periode tahun yang sama. Hal ini menunjukkan konsumsi minyak nabati India selain tergantung pada impor minyak nabati (pangsa impor besar) juga semakin bergantung (pangsa impor meningkat). Jika dilihat dari jenis minyak nabati yang dikonsumsi India menunjukkan bahwa konsumsi minyak nabati India didominasi oleh minyak sawit.

Selama periode tahun 2001-2018. pangsa minyak sawit mengalami peningkatan dari 30 persen menjadi 43 persen. Sebaliknya pangsa minyak rapeseed mengalami penurunan dari 17 persen menjadi 15 persen pada periode yang sama.

Sedangkan pangsa minyak kedelai tidak mengalami perubahan selama periode tersebut yakni sebesar 22 persen. Tampaknya minyak sawit menjadi kompetitor yang cukup kuat untuk minyak rapeseed dan minyak kedelai yang diproduksi sendiri dan di subsidi oleh India.

Dengan demikian dapat ditunjukkan bahwa stuktur konsumsi minyak nabati di India tahun 2001-2018 berdasarkan jenis minyak nabati adalah: (1) minyak sawit; (2) minyak kedelai; (3) minyak rapeseed; (4) minyak biji bunga matahari; dan (5) minyak kelapa.

Stuktur konsumsi periode tersebut telah mengalami perubahan dibandingkan dengan stuktur konsumsi tahun 1980-2000 yakni: (1) minyak rapeseed; (2) minyak sawit; (3) minyak kedelai; (4) minyak bunga matahari; (5) minyak kelapa.

Bahkan jauh berubah dibandingkan dengan stuktur konsumsi minyak nabati India periode tahun 1965- 1980 yakni: (1) minyak rapeseed; (2) minyak kedelai; (3)-minyak sawit; (4) minyak bunga matahari dan (5) minyak kelapa (PASPI, 2016a).

Dominasi minyak sawit dalam stuktur konsumsi minyak nabati di India yakni dari posisi ke-3 tahun 1965 menjadi posisi ke-i tahun 2018, disebabkan karena harganya yang lebih kompetitif (murah) dibandingkan minyak rapeseed, minyak kedelai dan minyak bunga matahari (PASPI, 2016b).

Menurut Zakaria et al. (2017), meningkatnya impor minyak sawit di India juga dipengaruhi oleh selisih harga minyak sawit dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Harga minyak sawit yang relatif murah berkorelasi kuat dengan fakta bahwa sebagian besar minyak sawit dikonsumsi oleh masyarakat India pada kelas ekonomi menengah ke bawah (Mehta, 2016).

Hal ini menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki peran yang besar dalam struktur konsumsi minyak nabati India.

Impor India

Konsumsi minyak nabati India sangat besar dan terus mengalami peningkatan, sementara produksi minyak nabati domestik belum mampu mencukupi konsumsi. Akibatnya India harus mengimpor minyak nabati guna memenuhi konsumsi dalam negeri. Volume impor minyak nabati India mengalami peningkatan dari 4.67 juta ton tahun 2001 menjadi 14.6 juta ton tahun

Minyak nabati yang paling banyak diimpor oleh India adalah minyak sawit dengan pangsa sebesar 68 persen. Impor minyak sawit terus mengalami peningkatan secara konsisten adalah minyak sawit yakni dari 2.9 juta ton menjadi 8.8 juta ton selama periode tahun 2001-2018. Impor minyak sawit ini digunakan untuk memenuhi konsumsi yang besar karena produksi minyak sawit domestik masih rendah.

Selain minyak sawit yang diimpor oleh India, minyak nabati yang notabenenya memiliki pangsa produksi yang besar seperti minyak rapeseed, minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak kelapa juga diimpor oleh India.

Selama periode tahun 2001-2018, impor minyak rapeseed meningkat dari 41 ribu ton menjadi 210 ribu ton, impor minyak kedelai juga meningkat dari 1.3 juta ton menjadi 2.9 juta ton, impor minyak bunga matahari juga meningkat dari 262 ribu ton menjadi 2.4 juta ton dan impor minyak kelapa meningkat dari 77 ribu ton menjadi 126 ribu ton.

India merupakan negara importir minyak sawit terbesar di dunia dengan pangsa sebesar 17.5 persen dari total impor minyak sawit dunia (ITC, 2019). Jadi tidak mengherankan jika pangsa minyak sawit impor di India sangat besar dan terus mengalami peningkatan yakni dari 64 persen menjadi 68 persen selama periode tahun 2001-2018.

Besarnya pangsa dan volume impor minyak sawit yang juga terus mengalami peningkatan di India menunjukkan bahwa India memiliki ketergantungan terhadap impor minyak sawit yang tinggi.

Di sisi lain, kebijakan penetapan tarif impor untuk minyak sawit di India yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor. Penetapan tarif impor yang tinggi bertujuan untuk membuat harga minyak sawit impor tidak lagi kompetitif. Sehingga akan menurunkan\’ daya saing minyak sawit yang berimplikasi pada penurunan konsumsi. Pada tahun 2018, tarif impor minyak sawit India mencapai 44 persen dan merupakan yang tertinggi selama satu dekade terakhir,

Namun, berbagai kebijakan yang diterapkan di India sebagai upaya untuk membatasi minyak sawit impor belum dapat tercapai. Justru sebaliknya, impor minyak sawit India terus meningkat dengan laju sebesar 8 persen pertahun selama periode 2001-2018.

Hal ini semakin menunjukkan bahwa peran minyak sawit begitu besar dalam konsumsi India, meskipun banyak kebijakan yang bertujuan untuk menurunkan permintaan sawit namun kebijakan tersebut terbukti tidak berhasil.

Kesimpulan

Minyak nabati yang banyak diproduksi di India adalah minyak rapeseed, minyak kedelai, minyak kelapa dan minyak biji bunga matahari. Produksi minyak nabati India mengalami peningkatan meskipun relatif kecil yakni dari 5.14 juta ton tahun 2001 menjadi 5.5 juta ton tahun 2018.

Jikadilihat dari pangsa produksi minyak nabatilndia menunjukkan bahwa minyak rapeseedmerupakan minyak nabati utama dengan pangsa sebesar 36 persen, sedangkan pangsa produksi minyak nabati lainnya adalah minyak kedelai (36 persen), minyak kelapa (8 persen), minyak biji bunga matahari (6 persen).

India melalui kebijakan substitusi impor, juga memproduksi minyak sawit dengan pangsa sebesar 2 persen dengan volume produksi sebesar 200 ribu ton tahun 2018.

Konsumsi minyak nabati India juga mengalami peningkatan yakni dari 9 juta ton menjadi 22 juta ton selama periode tahun 2001-2018. Namun, pangsa minyak nabati produksi domestik India dalam konsumsi minyak nabatinya mengalami penurunan dari 49 persen menjadi 33 persen pada periode yang sama. Sebaliknya, peranan impor minyak nabati dalam konsumsi minyak nabati India mengalami peningkatan dari 51 persen menjadi 67 persen. Hal ini menunjukkan konsumsi minyak nabati India semakin tergantung pada impor minyak nabati.

Volume impor minyak nabati India mengalami peningkatan dari 4.67 juta ton tahun 2001 menjadi 14.6 juta ton tahun 2018. Minyak nabati impor yang paling banyak dan konsisten diimpor oleh India adalah minyak sawit (68 persen). Minyak sawit impor juga menghadapi berbagai hambatan perdagangan yakni tarif impor yang tinggi, namun volume impor terus meningkat dari 2.9 juta ton menjadi 8.8 juta ton. Hal ini disebakan karena minyak sawit merupakan minyak nabati utama yang dikonsumsi India dengan pangsa sebesar 43 persen pada tahun 2018.

Minyak nabati lainnya yang diimpor oleh India juga mengalami peningkatan selama periode tahun 2001-2018 yakni impor minyak rapeseed meningkat dari 41 ribu ton menjadi 210 ribu ton, impor minyak kedelai juga meningkat dari 1.3 juta ton menjadi 2.9 juta ton, impor minyak bunga matahari juga meningkat dari 262 ribu ton menjadi 2.4 juta ton dan impor minyak kelapa meningkat dari 77 ribu ton menjadi 126 ribu ton.

Sumber: Tabloid Agro Indonesia