KILAU CPO BERLANJUT DI TAHUN KERBAU LOGAM

 

Laju positif harga minyak Kelapa Sawit mentah [crude palm oil/CPO) diprediksi berlanjut pada tahun depan. Fenomena itu akan didukung oleh sejumlah sentimen positif dari sisi domestik maupun global.

Warga CPO diramal akan terus terkerek hingga menembus 4.000 ringgit Malaysia pada kuartal 1/2021.

Estimasi ini seiring musim hujan yang menimpa sentra produksi sehingga menyulitkan panen dan terganggunya transportasi.

Dalam perdagangan Rabu (30/12) pukul 15.00 waktu setempat di Bursa Malaysia, harga CPO pengiriman untuk Maret 2021 kembali menguat ke level 3.573 ringgit per ton.

Harga CPO di bursa derivatif Malaysia ini tidak hanya menguat untuk pengiriman Maret 2021, namun melonjak pada semua jadwal pengiriman hingga 2021.

Harga FCPO tertinggi terjadi untuk pengiriman Januari 2021 menjadi 3.852 ringgit Malaysia dan 3.731 ringgit Malaysia per ton untuk pengiriman Februari 2021.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan seiring melun-curnya stimulus Amerika dan mulusnya perundingan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, maka harga CPO akan tetap di jalur hijau.

Sentimen CPO juga datang dari dalam negeri yakni menunggu pengumuman uji B40 dan B100. Uji ini adalah pencampuran 40% minyak sawit yang diolah ke dalam bahan bakar minyak (BBM) sehingga disebut dengan biodiesel 40. Lainnya Indonesia juga mengembangkan sepenuhnya minyak sawit untuk bahan bakar atau dikenal dengan B100.

Ibrahim menyebutkan, jika pemerintah berhasil membuka kembali ekonomi yang dimulai dengan penyuntikan vaksin, maka pada tahun depan konsumsi bahan bakar dari minyak sawit ini diperkirakan mencapai 10 juta kilo liter.

Sedangkan kesuksesan vaksin secara global juga diyakini akan mendongkrak konsumsi terutama dari China dan India. Dua pasar tradisional CPO Indonesia ini diyakini akan meningkatkan permintaan mengimbangi kebutuhan masyarakatnya.

Permintaan tinggi juga akan datang dari Jepang dan Korea selain China.

“Pada kuartal 1/2021 akan tembus 4.000 ringgit Malaysia per ton,” kata Ibrahim, Selasa (29/12).

Harga CPO sendiri sepanjang 2020 mencatatkan grafik naik turun yang tajam. Setelah memulai 2020 dengan meyakinkan harga CPO kemudian anjlok pada titik terendah tahun ini di level 1.946 ringgit per ton pada awal Mei 2020 lalu akibat kekhawatiran penutupan wilayah akibat pandemi Covid-19.

Setelah ekonomi perlahan dibuka, kontrak FCPO perlahan mendaki dan kemudian menembus rekor 2012 di tengah ketidakpastian.

Rekor harga CPO sendiri tercatat menjelang tutup tahun 2020 pada level 3.569 ringgit per ton.

Riset mingguan ICDX mengingatkan harga CPO akan terus bergerak seiring musim hujan yang masuk Asia Tenggara sejak awal Desember lalu. Kondisi ini akan membuat para pedagang untuk meningkatkan stok sedangkan pasokan tengah terbatas akibat terhambatnya distribusi akibat hujan.

Kendati demikian, ICDX mencatat sepanjang 1-20 Desember 2020, peningkatan permintaan hanya terjadi di pasar Eropa dan India. Sementara China sebagai salah satu konsumen besar justru tengah anjlok permintaannya.

Ibrahim menyebutkan dengan realitas ini, maka harga CPO akan mencapai keseimbangan baru dan berbalik arah pada kuartal 11/2021. Diperkirakan harga ideal CPO berada di bawah 3.000 ringgit Malaysia per ton.

Arah berputar CPO ini terjadi seiring teratasinya dua masalah utama di Uni Eropa yakni rampungnya pemberian vaksin serta sudah berjalannya pasar Eropa tanpa Inggris. Atas kondisi ini maka kampanye hitam atas sawit akan kembali mengemuka.

Sementara itu di pasar modal Tanah Air, emiten Kelapa Sawit turut menikmati lonjakan harga di pasar berjangka ini. Dari 21 perusahaan perkebunan Kelapa Sawit tercatat sebanyak 13 perusahaan mencatatkan kenaikan harga saham per 29 Desember 2020 dibandingkan posisi awal tahun.

Lainnya, tiga emiten membeku di zona gocap dan delapan perusahaan harga sahamnya masih di bawah capaian awal tahun.

Emiten Kelapa Sawit dari kelompok besar yang sahamnya melonjak dobel digit yakni milik Menteri Pariwisata.

Sandiaga Uno melalui perusahaan investasinya PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) yang memiliki kebun sawit di bawah PT Provident Agro Tbk. (PALM). Emiten sawit ini telah melonjak harga sahamnya 66,06% dibandingkan 2 Januari 2020.

Lainnya terdapat grup Sinar Mas melalui PT Sawit Sum-bermas Sarana Tbk. (SSMS) 50,91 % serta Kelompok Tri-putra melalui Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) yang melonjak harga sahamnya 25,51%.

PROSPEK EMITEN

Meski begitu lonjakan harga saham tertinggi emiten sawit datang dari emiten debutan yakni PT Pinago Utama Tbk. (PNGO) yang melonjak 220% serta PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) yang melaju 86,79%.

Optimisme harga sawit masih akan naik sampai pekan depan juga diyakini oleh Me-ilki Darmawan, Analis Henan Putihrai Sekuritas.

Dia menyebutkan defisit pasokan pada awal 2021 juga menjadi penyebab utama.

Melki memperkirakan harga CPO akan berada pada level di atas 2.600 ringgit per ton seiring dengan sentimen pasokan-permintaan yang cukup stabil pada 2021 setelah fenomena La Nina usai. Rata-rata harga CPO pada 2021 diprediksi di kisaran 2.950 ringgit per ton.

“Oleh karena itu, pertumbuhan pendapatan emiten CPO pada 2021 diyakini masih tumbuh sekitar 8% hingga 22% secara year on year,” ujar Meilki seperti dikutip dari publikasi risetnya.

Di antara seluruh saham di sektor perkebunan, Meilki menjadikan saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) sebagai top picks seiring dengan metrik operasional emiten Grup Astra tersebut yang lebih lengkap dibandingkan dengan emiten lainnya.

Dia menjelaskan A AT J memiliki areal tanam yang luas, hasil TBS yang baik, margin yang kokoh, dan rata-rata umur pohon masih tergolong umur produktif.

Target harga untuk AALI di posisi Rpl4.000 per saham.

 

Sumber: Bisnis Indonesia