Medan, Elaeis.co – Masyarakat Indonesia dikenal suka dengan beragam jenis gorengan. Namun tidak banyak yang tahu kalau menggoreng makanan pun ada tekniknya, ada caranya.

“Enggak sembarangan menggoreng. Umumnya masyarakat kita kalau menggoreng selalu menuangkan minyak goreng lumayan banyak. Agar bahan makanan yang mau digoreng tenggelam, bisa digoreng sekaligus atas dan bawah,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, dalam sebuah webinar yang diselenggarakan PASPI dan Himpunan Mahasiswa Pertanian Universitas Diponegoro, Jawa Tengah, Sabtu (24/7) lalu.

Ternyata kebiasaan itu salah. Sebab, kata Sahat, selain boros minyak goreng, juga membuang banyak kandungan gizi di makanan dan minyak goreng.

Hal itu ia ketahui beberapa tahun yang lalu saat berkunjung ke Eropa dan berjumpa dengan sejumlah chef atau juru masak. “Dari mereka saya tahu bagaimana teknik menggoreng yang tepat,” kata Sahat.

Menurutnya, menggoreng yang benar itu adalah menggunakan minyak goreng yang secukupnya, sesuai dengan volume bahan makanan yang mau digoreng.

“Enggak perlu sampai tenggelam di dalam minyak goreng bahan masakannya. Dengan suhu api yang pas, menggorengnya pun enggak usah terlalu lama. Kalau dirasa sudah cukup, ya angkat gorengannya,” kata Sahat.

Pada kesempatan itu Sahat mengingatkan penyuka gorengan pinggir jalan agar berhati-hati dengan maraknya penggunaan minyak jelantah.

“Kalau di Jakarta itu ada daerah namanya Pacenongan. Banyak sekali di situ usaha kuliner gorengan, tapi enggak tahu kita apakah minyak yang dipakai minyak yang baru atau minyak jelantah,” katanya.

Ia menegaskan minyak jelantah adalah racun. “Tapi di Indonesia ini lain, makin disebut racun, makin laris,” sindirnya.

Ia berharap ada regulasi yang bisa mengatasi peredaran minyak jelantah yang sangat membahayakan kesehatan tersebut.

“Minyak jelantah itu cocoknya untuk biodiesel, bukan untuk dipakai kembali untuk menggoreng. Harus ada regulasi yang secara ketat mengatur hal ini,” tegasnya.

 

 

Sumber: Elaeis.co