Kebijakan perluasan penggunaan solar dengan campuran minyak nabati kelapa sawit sebesar 20 persen atau B20 diharapkan menjadi cara lebih cepat untuk menghemat dan menyelamatkan devisa. Dengan implementasi kebijakan perluasan B20 per 1 September 2018, impor solar akan turun. Dengan penurunan impor solar, devisa yang bisa dihemat atau diselamatkan per tahun diperkirakan 4 miliar dollar AS.

Akan tetapi, sejauh mana impor solar dapat ditekan, sangat bergantung pada konsistensi dan pengawasan kebijakan perluasan penggunaan B20. Pengawasan terhadap proses pencampuran 20 persen biodiesel ke dalam setiap liter solar di titik-titik pencampuran dan titik-titik penyerahan produk B20 menjadi sangat penting.

Implementasi kebijakan perluasan B20 juga dapat meningkatkan penjualan produk biodiesel di pasar domestik. Jika berjalan konsisten, penjualan produk biodiesel diperkirakan mencapai 6,7 juta kiloliter per tahun. Penggunaan biodiesel di pasar domestik diharapkan dapat memengaruhi pasar produk minyaksawitdan turunannya di dunia. Dengan demikian, harga minyak sawit dapat bergerak naik.

Sebagai perbandingan, pada 30 Agustus 2018, harga minyak kelapa sawit 557,5 dollar AS per ton atau turun dibandingkan dengan harga pada 3 Januari 2018 yang sebesar 697,5 doUar AS per ton. Penurunan harga, antara lain, disebabkan produksi dan stok minyak sawit di negara produsen, seperti Indonesia dan Malaysia, meningkat karena pasar ekspor di beberapa negara turun pada semester 1-2018.

Namun, pada Juli 2018, ekspor produk minyak sawit dan turunannya, termasuk biodiesel, menggeliat. Ekspor produk minyak sawit dan turunannya pada Juli 2018 sebanyak 3,22 juta ton atau naik 27 persen dibandingkan dengan ekspor pada Juli 2017 yang sebesar 2,54 juta ton.

Ekspor minyak sawit dan turunannya pada Juli 2018 tersebut merupakan ekspor tertinggi sepanjang 2018. Sebagai perbandingan, ekspor pada Juni 2018 sebanyak 2,73 juta ton. Mei sebanyak 2,33 juta ton, April 2,39 juta ton, Maret 2,52 juta ton, Februari 2,47 juta ton, dan Januari 2,83 juta ton.

Peningkatan ekspor minyak sawit dan turunannya pada Juli 2018 dipicu permintaan di pasar India. Dengan harga minyak sawit yang cenderung lebih murah pada semester 1-2018, permintaan dari India meningkat Dari data Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki), pembelian minyak sawit dan produk turunannya dari India mencapai 652.730 ton pada Juli 2018 atau naik 40 persen dari Juni 2018.

Selain itu, China sebagai importir terbesar ketiga produk minyak sawit dari Indonesia mulai mengincar produk biodiesel dari Indonesia, antara lain, untuk mengurangi emisi dengan mempromosikan energi baru dan terbarukan yang bersumber dari energi biodiesel berbasis minyak sawit.

Pada Juli 2018, China mengimpor produk minyak sawit dan turunannya dari Indonesia sebanyak 350.120 ton atau tumbuh 6 persen dari Juni 2018 yang sebanyak 330.430 ton. Dari jumlah itu, China mengimpor produk biodiesel dari Indonesia sebanyak 210.000 ton pada Juli 2018 atau naik dibandingkan dengan impor pada Juni 2018 sebanyak 185.000 toa

Promosi penggunaan biodiesel di pasar China, sebagai negara raksasa, memberi angin segar bagi pasar ekspor produk sawit dan turunannya, termasuk produk biodiesel. Diharapkan, pasar produk biodiesel berbasis minyak sawit di pasar China akan terus bertambah. Apalagi, dengan suasana perang dagang dengan Amerika Serikat (AS), China mengurangi pembelian atau impor komoditas kedelai, terutama dari AS.

Dengan promosi penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit di China dan perluasan penggunaan B20 di Indonesia, diharapkan terjadi pergeseran permintaan minyak sawit dan produk turunannya di pasar dunia. Dengan kondisi itu, tren kenaikan harga produk minyak sawit dan turunannya diharapkan mulai terlihat pada akhir 2018.

Jika harga produk minyak sawit dan turunannya meningkat) ditambah permintaan yang besar dari pasar China, tentu nilai ekspor produk minyak sawit dan turunannya Indonesia juga akan meningkat Peningkatan nilai ekspor produk sawit dan turunannya diharapkan dapat memperbesar cadangan devisa dan mengurangi defisit transaksi berjalan yang pada semester 11-2018 mencapai 8 miliar dollar AS atau 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Pada 2017, nilai ekspor sawit dan produk turunannya mencapai 22,96 miliar dollar AS dengan volume ekspor 31,05 juta ton. Nilai ekspor itu meningkat dibandingkan dengan nilai ekspor pada 2016 yang sebesar 18,21 miliar dollar AS dengan volume 25,11 juta ton.

Masih ada waktu 4 bulan, hingga akhir tahun ini, untuk berharap ada tren kenaikan harga sawit dan kenaikan volume ekspor produk minyak sawit dan turunannya. Dengan kenaikan harga-yang diharapkan terjadi-itu, nilai ekspor sepanjang tahun ini akan lebih besar daripada 2017.

(FERRY SANTOSO)

 

Sumber: Kompas