MISTAR.ID Sepanjang minggu ini, harga Crude Palm Oil (CPO) di bursa Malaysia melonjak 3,64 persen. Pada 21 Mei, harga sempat naik ke titik tertinggi sejak 20 April, sebelum kemudian turun akibat aksi ambil untung (profit taking).

Namun ke depan, ada tantangan yang bisa membuat harga terkoreksi. Meski bergerak ke utara, tetapi kenaikan harga CPO masih di bawah pertumbuhan yang dialami komoditas lainnya. Harga minyak, misalnya, bisa naik sampai hampir 13 persen. Sementara, harga batu bara naik 4,27 persen.

“Kenaikan hara CPO pekan ini tidak sekencang minggu-minggu sebelumnya, juga relatif datar saja dibandingkan dengan komoditas lain. Harga masih bergerak di kisaran RM 1.940-2.150/metrik ton,” kata Marcello Cultera, Institutional Sales Manager di Phillip Futures yang berbasis di Kuala Lumpur.

Ya, ke depan akan ada hal-hal yang berisiko membuat permintaan CPO melambat sehingga berakibat harga turun. Tantangan paling utama adalah pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) yang masih belum berakhir.

Pandemi akibat virus yang bermula dari Kota Wuhan Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini membuat perekonomian dunia terkontraksi (tumbuh negatif). Kelesuan aktivitas ekonomi akan membuat permintaan CPO ikut loyo.

“Industri ini menghadapi tantangan gangguan logistik dan rantai pasok akibat pandemi yang berkepanjangan. Efek domino dari resesi global akan berdampak ke industri CPO. Permintaan global tentu akan terpengaruh,” kata Mohammad Helmi Othman, Managing Director Sime Darby (perusahaan pemilik perkebunan kelapa sawit terluas di dunia).(cnbcindonesia/hm10)

 

Sumber: Mistar.id