Limbah cair pabrik kelapa sawit, atau palm oil mill effluent (POME), bukan hanya bahan yang perlu diolah. Di dalamnya juga terdapat komunitas mikroba yang menarik untuk diteliti. Namun, menemukan bakteri yang menunjukkan sifat tertentu di laboratorium tidak sama dengan memiliki produk yang siap dipakai di kebun atau instalasi pengolahan. Perbedaan itulah yang tampak dalam penelitian Ernitha Panjaitan dan rekan-rekannya, terbit daring di Journal of Oil Palm Research pada 16 Oktober 2026. Studi pembanding tentang pengomposan pelepah sawit dan POME memberi gambaran lain mengenai komunitas mikroba, bukan pembuktian lapangan untuk isolat yang sama.
Apa yang sebenarnya ditemukan dari POME?
Tim Panjaitan mengambil sampel dari kolam anaerob keempat sebuah fasilitas pengolahan sawit di Sumatera Utara. Mereka menumbuhkan bakteri pada agar Ashby tanpa nitrogen dan tryptic soy agar (TSA). Dari proses ini diperoleh lima isolat dengan bentuk koloni berbeda: tiga disebut sementara sebagai Azotobacter dan dua sebagai Pseudomonas. Kata “sementara” penting. Pengelompokan itu bertumpu pada penampilan koloni dan sifat pertumbuhan pada media, bukan identifikasi molekuler atau profil biokimia. TSA sendiri merupakan media umum, bukan media selektif khusus Pseudomonas.
Dengan demikian, penelitian belum memastikan identitas kelima isolat sampai tingkat genus secara definitif, apalagi spesies. Pertumbuhan pada agar tanpa nitrogen juga belum dengan sendirinya membuktikan kemampuan fiksasi nitrogen atau manfaat pemupukan dalam tanah. Penulis secara eksplisit meminta konfirmasi molekuler, antara lain melalui sekuensing gen 16S rRNA. Sebutan kandidat bakteri pemacu pertumbuhan tanaman dalam artikel ilmiah itu merujuk pada penyaringan sifat awal, bukan hasil percobaan pertumbuhan tanaman di lapangan.
Tahan logam bukan berarti membersihkan lahan
Pada uji agar, kelima isolat masih menunjukkan pertumbuhan ketika media mengandung timbal (Pb²⁺) 115 mg/L dan kadmium (Cd²⁺) 11 mg/L, yakni konsentrasi tertinggi yang diuji pada masing-masing rangkaian. Ukurannya adalah ada atau tidaknya koloni yang terlihat setelah inkubasi. Penulis menegaskan pengamatan kualitatif ini bukan pengukuran konsentrasi hambat minimum dan tidak boleh dibaca sebagai ambang ketahanan di segala kondisi lingkungan.
Percobaan lain menggunakan kultur cair dengan kadar awal Cd²⁺ 15 mg/L selama 72 jam. Tabel hasil mencatat empat isolat dengan sisa Cd²⁺ 0,140–0,183 mg/L dan efisiensi penurunan kadar terukur 98,78–99,07 persen. Angka ini berlaku untuk kondisi larutan dan waktu percobaan tersebut. Ada ketidaksesuaian yang perlu dibaca hati-hati: abstrak dan narasi hasil menyebut semua isolat, tetapi tabel penghilangan Cd²⁺ hanya memuat empat; isolat kedua yang diduga Pseudomonas tidak tercantum. Karena itu, angka penurunan tersebut tidak layak dilekatkan kepada kelima isolat.
Lebih jauh, pengukuran kadar Cd²⁺ di cairan sesudah pemisahan sel belum menunjukkan ke mana logam berpindah. Peneliti menyatakan pengujian dilakukan pada satu konsentrasi awal dan tanpa kontrol abiotik atau biomassa mati. Hasilnya belum dapat memilah apakah perubahan kadar disebabkan penjerapan pada permukaan sel, akumulasi di dalam sel, atau pengendapan fisik-kimia. Penurunan konsentrasi di botol kultur pun bukan bukti bahwa pencemaran tanah atau air di lingkungan nyata sudah bisa dipulihkan dengan isolat tersebut.
Sinyal pemacu tumbuh dan pertanyaan keamanan
Penelitian juga mengukur asam indol-3-asetat (IAA), senyawa terkait pertumbuhan tanaman, dalam media yang ditambah L-triptofan. Empat isolat pada tabel menghasilkan angka 44,15–74,91 µg/mL; sekali lagi, isolat kedua yang diduga Pseudomonas tidak tertera meskipun kalimat hasil menyatakan semua isolat menghasilkan IAA. Penulis mengingatkan bahwa metode kolorimetri Salkowski dapat merespons senyawa indol lain. Pengukuran dalam media yang diperkaya prekursor bukan bukti bahwa bakteri menghasilkan kadar serupa di tanah, meningkatkan hasil tanaman, atau berfungsi sebagai pupuk hayati siap pakai.
Sebagai penyaringan awal, peneliti juga mengamati hemolisis pada agar darah domba. Empat isolat menunjukkan kategori gamma, yaitu tidak ada perubahan yang terlihat pada kondisi uji; satu isolat yang diduga Pseudomonas menunjukkan beta-hemolisis. Hasil gamma bukan sertifikat keamanan, sementara temuan beta merupakan alasan tambahan untuk pemeriksaan lanjutan. Artikel ilmiah itu menyebut pengujian kerentanan antibiotik dan penapisan gen terkait virulensi belum dilakukan. Identitas pasti serta evaluasi risiko yang lebih luas harus diselesaikan sebelum aplikasi lingkungan dipertimbangkan.
Studi kompos menjawab pertanyaan yang berbeda
Tulisan Mohd Najib Ahmad dan rekan-rekannya di Journal of Oil Palm Research volume 28 nomor 2 tahun 2016 meneliti suksesi komunitas mikroba selama pengomposan bersama pelepah sawit yang dicacah dan digiling dengan POME. Percobaan skala percontohan itu memakai sekitar satu ton pelepah; POME ditambahkan berkala, sedangkan sampel kompos diambil sepanjang proses yang berlangsung sekitar 40–60 hari. Komunitas dipantau dengan PCR-DGGE pada materi genetik dari kompos, bukan dengan menguji lima isolat dari studi Sumatera Utara.
Para penulis melaporkan kelompok gamma-Proteobacteria, termasuk kerabat Pseudomonas, terdeteksi pada banyak tahap pengomposan. Mereka juga mencatat perubahan intensitas sejumlah pita DNA, sementara banyak anggota komunitas tetap tidak teridentifikasi. Temuan itu membantu menggambarkan siapa yang terdeteksi dalam tumpukan kompos dan bagaimana profilnya bergeser. Kesamaan nama Pseudomonas tidak membuktikan bahwa organisme yang terdeteksi di kompos identik dengan isolat penelitian 2026, apalagi bahwa isolat tersebut meningkatkan mutu kompos, menghilangkan logam di kebun, atau aman untuk ditebar.
Dari kandidat riset ke kemungkinan penerapan
Dua studi ini menempatkan POME dalam dua konteks berbeda: sumber isolat untuk penyaringan sifat laboratorium dan salah satu bahan dalam pengomposan yang komunitas mikrobanya dipantau. Untuk isolat studi 2026, langkah yang disebut penelitinya mencakup konfirmasi identitas molekuler, penilaian keamanan yang diperluas, serta validasi berbasis tanah. Kontrol percobaan dan rentang konsentrasi logam yang lebih luas juga diperlukan untuk menjelaskan mekanisme perubahan Cd²⁺; uji tanaman yang lebih spesifik diperlukan untuk menilai arti sinyal IAA.
Jadi, jawabannya bukan “sudah siap dipakai”. POME membuka jalur penelitian mikroba, dan data awal memperlihatkan sifat yang patut diuji lagi. Sampai bukti identitas, mekanisme, keamanan, serta kinerja pada kondisi tanah dan tanaman tersedia, angka dari cawan dan kultur cair tetap merupakan hasil laboratorium—bukan janji manfaat lapangan. Pembaca yang ingin mengikuti topik serupa dapat menelusuri rubrik Wawasan GIMNI.
Sumber pantauan
- Ernitha Panjaitan, Ebsan Marihot Sianipar, Sri Pratiwi Aritonang, dan Rizky Yudha Pratama (2026), “Putative Heavy Metal-Tolerant Azotobacter and Pseudomonas from Palm Oil Mill Effluent (POME): Preliminary Evaluation of Bioremediation and Biofertiliser Traits”, Journal of Oil Palm Research, artikel daring 16 Oktober 2026. https://jopr.mpob.gov.my/putative-heavy-metal-tolerant-azotobacter-and-pseudomonas-from-palm-oil-mill-effluent-pome-preliminary-evaluation-of-bioremediation-and-biofertiliser-traits/
- Mohd Najib Ahmad, Siti Ramlah Ahmad Ali, dan Mohd Ali Hassan (2016), “Microbial Succession in Co-Composting of Chipped-Ground Oil Palm Frond and Palm Oil Mill Effluent”, Journal of Oil Palm Research, 28(2), 191–197. https://jopr.mpob.gov.my/microbial-succession-in-co-composting-of-chipped-ground-oil-palm-frond-and-palm-oil-mill-effluent/