Muhrizal Sarwani menyebutkan penggunaan pupuk majemuk atau NPK sudah meningkat di sektor perkebunan. Sektor perkebunan kelapa sawit menjadi peminat utama pupuk NPK. Pasalnya, dalam satu hamparan perkebunan seluas 10 ribu hektare berbeda-beda formula pupuknya.

“Perkebunan mempunya kebutuhan khusus terhadap kandungan pupuk. Itu sebabnya, banyak variasi pupuk NPK yang beredar di pasaran,” ujarnya.

Muhrizal menyebutkan dalam beberapa tahun terakhir banyak permohonan perijinan NPK dengan formula khusus seperti kandungan mikro dan bio. Pada dasarnya, pemerintah mendukung aplikasi pupuk NPK untuk menggantikan pupuk kimia. Memang ada rencana Menteri Pertanian yang akan membuat regulasi khusus untuk mempermudah perizinan industri pupuk majemuk.

“Kami mendorong izin untuk NPK dengan penyediaan bahan dasar dari dalam negeri. Begitupula di Kementerian Perindustrian mendukung industri pupuk majemuk ini.“ungkapnya.

Pupuk NPK saat ini mampu menjadi subtitusi pupuk tunggal. Muhrizal mengakui  NPK tidak lagi sebagai komplementer (pelengkap) karena mengandung unsur yang sangat lengkap seperti N,P, dan K ditambah unsur nutrisi mikro lain. “Makanya bagi kami pupuk majemuk ini sangat bagus untuk ke depannya,” ujar Muhrizal.

Diakui Muhrizal,  pupuk kimia digunakan secara massif terutama yang berakibat mengurangi unsur hara dalam tanah.Organisme didalam tanah pun mati karena penggunaan yang melebihi dosis. Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia ini dapat diketahui dalam sensus Badan Pusat Statistik mengenai Pendataan Usaha Tani 2009 .

“Dengan kandungan urea yang semakin tinggi akan berdampak melemahkan tanaman. Juga bisa membuat tanah itu mengeras sehingga menguras kandungan  organik dalam tanah,”tuturnya.

Diakui Muhrizal, faktor harga menjadi tantangan dalam penggunaan pupuk NPK di pasaran. Pasalnya, harga NPK masih lebih tinggi dibandingkan pupuk kimia seperti urea. Sebagai perbandingan, harga pupuk urea harga sekira Rp 4.000 sampai Rp 4.400 per kilogram. Sementara itu, pupuk NPK masih sekitar Rp6.000-Rp6.800 per kilogram. Bahkan untuk produk NPK yang lebih spesifik harganya bisa mencapai Rp10.000-Rp12.000 per kilogram.

Tantangan lain yang dihadapi dalam penggunan pupuk berimbang adalah pola adopsi di kalangan petani. Terdapat persepsi yang tidak sesuai penggunaan pupuk berimbang akan mengurangi produktivitas. Disebutkan Muhrizal sebaiknya  penyuluh pertanian harus dibekali informasi dan pengetahuan yang benar mengenai pemupukan berimbang.

“Penyuluh ini menjadi garda terdepan dalam memberikan pendidikan kepada petani mengenai praktik pertanian yang baik,”katanya.

 

Sumber: Sawitindonesia.com