Perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Sarolangun, Jambi, menghadapi tuntutan terkait keberlanjutan, ketertelusuran, dan pasar global. Majalah Hortus melaporkan tantangan tersebut mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia pekebun melalui pelatihan Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO.
Sebanyak 30 peserta asal Sarolangun mengikuti pelatihan implementasi ISPO yang diselenggarakan PT Sumber Daya Indonesia Berjaya melalui penugasan Badan Pengelola Dana Perkebunan, dengan dukungan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.
Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun Ifwandi mengatakan perkembangan industri sawit menuntut pekebun memahami standar keberlanjutan secara lebih serius. Menurut dia, isu ketertelusuran, lingkungan, deforestasi, serta hak pekerja dan masyarakat semakin menjadi bagian penting dalam perdagangan komoditas sawit.
Majalah Hortus melaporkan penerapan ISPO di tingkat kelembagaan pekebun rakyat di Jambi masih relatif rendah. Dalam paparan Ifwandi disebutkan perusahaan di Jambi telah memiliki tingkat penerapan ISPO sekitar 50–60 persen, sementara kelembagaan pekebun rakyat masih di bawah 10 persen.
Pelatihan dirancang berdasarkan kurikulum dan silabus yang mengacu pada ketentuan Direktorat Jenderal Perkebunan. Peserta memperoleh pembekalan mengenai implementasi ISPO dan penyusunan dokumen dari tenaga pelatih yang memiliki kompetensi sebagai pelatih maupun auditor.
Sumber pantauan
- Majalah Hortus, “BPDP Bersama Ditjenbun dan PT SIB Gelar Pelatihan ISPO, Hadapi Tuntutan Pasar Global”, 15 September 2026, sumber asli.