Pekanbaru, Gatra.com – Sebenarnya, dari dulu orang di Indonesia sudah mencari tahu apa saja yang bisa dibikin dari minyak kelapa sawit.

Selain lantaran luas kebun kelapa sawit itu sekarang sudah mencapai 16,3 juta hektar, yang butuh hasil olahan minyak sawit ini di Indonesia juga tergolong bongsor; lebih dari 250 juta jiwa.

Setelah bisa dijadikan ragam bahan makanan dan non makanan, sejak tiga tahun lalu, Laboratorium CaRE Institut Teknologi Bandung (ITB) sudah mengujicoba minyak sawit tadi menjadi minyak solar, bensin dan bahkan minyak pesawat terbang. Berhasil!

Alhasil, bulan depan, CaRE ITB bersama alumni Teknik Kimia (TK)-ITB seperti Sahat Sinaga, Sapto Tranggono dan rekannya yang lain bakal menguji coba pabrik penghasil Bensin Super Biohydrocarbon di Kudus, Jawa Tengah. Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang membiayai uji coba ini, termasuk untuk pengembangannya,

Dibilang Biohydrocarbon lantaran Bensin Super (BS) ini dibikin dari minyak kelapa sawit berupa bio dan produk yang dihasilkan adalah hidrokarbon. Hydrocarbon ini serupa dengan minyak yang bersumber dari fosil.

Asal tahu saja, bensin biohydrokarbon ini identik juga dengan bensin yang dipakai oleh mobil balap Formula 2 (F2). Jadi nanti, yang senang racing di Circuit Sentul, enggak perlu lagi membeli bahan bakar super-car impor yang di dalam Negeri dibanderol Rp56 ribu seliter. Sebab Bensin Biohydrokarbon ini cuma Rp38.500 seliter.

“Bensin Super (BS) ini Octane Number (ON) nya 110. Jadi sudah setara minyak pesawat terbang yang ON nya 100/130. Pertamax Plus ON nya cuma 95, Pertamax apalagi, hanya 92,” cerita Sahat Sinaga kepada Gatra.com, kemarin.

Pabrik uji coba yang di Kudus itu kata Ketua Masyarakat Biohydrokarbon Indonesia (MBI) ini, masih berkapasitas kecil; baru akan menghasilkan 1000 liter sehari.

Walau pabrik kecil, ayah tiga anak ini memastikan kalau 99 persen dari semua piranti pabrik itu teknologi dalam negeri, begitu juga dengan para pekerjanya.

Hanya saja, lantaran ON nya setinggi itu, otomatis enggak bakal bisa langsung dijual ke masyarakat umum. ON nya musti diturunkan dulu. Untuk inilah kemudian Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN), Care ITB dan Pemkab Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan (Sumsel) berencana membikin pabrik berkapasitas 2.500 barrel per hari di Muba.

Di Pelalawan Provinsi Riau juga bakal dibangun, tapi kapasitasnya lebih kecil; 1.500 barrel per hari.

Dua daerah ini dipilih lantaran sama-sama dekat dengan sumber minyak fosil. Di Banyu Asin — kabupaten pemekaran dari Muba —- kata Sahat, ada ratusan tambang minyak fosil rakyat yang produksinya bisa dibeli.

“Setelah disuling, minyak fosil itu bisa kita beli seharga Rp4500 per liter. Inilah yang akan kita bikin campuran Bensin Super itu supaya ON nya bisa turun menjadi 92. Premium setara Pertamax ini bakal kita jual Rp9.100 seliter,” rinci Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) ini.

Tapi untuk tahap awal ini katanya, yang bakal dibikin di Muba maupun di Pelalawan itu baru pabrik penghasil produk Industry Vegetable Oil (IVO). “IVO ini adalah minyak CPO+ untuk tujuan bahan bakar yang sudah bebas dari komponen perusak oleh katalist “merah-putih” produksi CaRE ITB,” terang Sahat.

Kalau mau membikin Kilang Biohydrokarbon berkapasitas 2.500 barrel IVO perhari tadi kata Sahat, musti dibangun dulu 3 pabrik Palm Oil Mill (POM). Lalu luas lahan sumber bahan baku yang dibutuhkan sekitar 25 ribu hektar.

“Jadi, jelang tiga pabrik itu ada, minyak sawit IVO yang dihasilkan di Muba, dikirim dulu ke kilang Pertamina di Plaju, Palembang. Terus yang di Pelalawan dikirim ke Kilang Pertamina Dumai. Yang bekerjasama dengan Pertamina, koperasi petani. Sebab koperasi itulah nanti yang jadi pemilik pabrik IVO itu,” katanya.

Bagi Sahat, unit pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak IVO itu disebut Traga Oil Mill (TOM), ini generasi kedua setelah PO Mill. TOM lah yang menghasilkan IVO itu untuk diolah di kilang Biohydrocarbon untuk menjadi Bensin Super.

Ongkos membangun TOM ini kata Sahat lebih kecil dari PKS konvensional. Sudah itu, lebih efisien dan ongkos pengolahan TBS nya pun lebih rendah.

“Investasinya 90% dari belanja modal Capital expenditure (Capex) PKS konvensional. Nah, kalau ongkos olah TBS di PKS biasanya berkisar Rp153 per kilogram, di TOM hanya Rp95-Rp110 per kilogram,” rinci jebolan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung 1973 ini.

Lima tahun lagi kata Sahat, IVO ini sangat dibutuhkan. Kalau misalnya kilang Biohydrocarbon yang ada hanya berkapasitas 2500-3000 barrel IVO per hari, maka di tahun itu, dibutuhkan 158 unit kilang biohydrocarbon untuk memenuhi bauran energi 23% dari kebutuhan bensin.

“Itulah makanya kilang biohydrocarbon ini akan kita bagun di seluruh wilayah Indonesia yang ada kebun kelapa sawit petaninya. Sebab sasaran kita memang petani kelapa sawit,” ujar Sahat.

Misi ini akan jalan terus, sebab selain semuanya asli dalam negeri, sawit rakyat terbeli dan minyak pun lekas terjual lantaran rentang kendalinya yang pendek. “Biaya distribusi Bensin Biohydrokarbon ini ekonomis. Sebab itu tadi, bikinnya di kabupaten itu, jualnya juga di wilayah itu,” katanya.

Apakah Kilang Biohydrokarbon ini kelak akan menjadi saingan Pertamina? “Enggak sama sekali, sebab semuanya bertujuan memasarkan bahan bakar yang affordable (terjangkau), bisa Pertamina, bisa juga Koperasi . Kalau Fatty Acid Methy Ester (FAME) — biodiesel — biarlah urusan perusahaan besar. Biohydrokarbon urusan rakyat yang komandonya Kementerian Koperasi,” tegas Sahat.

Jika apa yang dikatakan Sahat ini segera terwujud, bukan tidak mungkin ekspor biodiesel ke Eropa maupun Amerika, dihentikan. Soalnya, kebutuhan solar untuk domestik begitu besar. Dampaknya tentu, minyak kelapa sawit akan habis dikonsumsi di dalam Negeri.

“Kalau sekarang harga CPO tinggi, jangan senang dulu, sebab harga CPO yang tinggi ini justru jadi racun atau narkoba yang membikin petani tidak produktif berkebun dan mereka akan banyak tidur. Jangan ternina bobokkan dengan itu,” pinta Sahat.

Sahat kemudian berpesan, supaya harga IVO bisa affordable, satu-satunya jalan adalah produktivitas kebun musti di atas 20 Ton TBS per hektar per tahun. Untuk ini, kreatifitas petani sangat dibutuhkan.

“TOM mengolah TBS menjadi IVO dengan tingkat rendemen atau OER (Oil Extraction Rate) yang tinggi. Ini sangat menguntungkan petani. Kalau koperasi-koperasi petani sudah punya TOM, dipastikan mereka akan semakin kreatif, sebab mereka merasakan manfaat lebih dan mereka akan disebut petani modern lantaran sudah masuk ke generasi kedua POM bernama TOM itu,” ujar Sahat.

Biar proses kreatifitas itu tidak terganjal demi memenuhi kebutuhkan dalam Negeri yang semakin tinggi, “Pemerintah musti bersikap, lahan-lahan perkebunan yang berada di dalam klaim kawasan hutan, dilepaskan atau diputihkan saja,” pinta Sahat.

 

Sumber: Gatra.com