Indonesia berbeda dengan Eropa dan Amerika Utara yang pada awal masa pembangunannya mendeforestasi seluruh hutan primernya sehingga tidak lagi memililki hutan asli untuk “rumahnya” satwa-satwa liar dan biodiversity lainnya. Oleh karena itu, saat ini Eropa dan Amerika Utara sedang membangun kembali hutan konservasi/lindung yang disebut sebagai high Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS).
Indonesia sajak awal telah menetapkan minimum 30 persen daratan dipertahankan sebagai hutan asli termasuk hutan lindung dan konservasi. Hutan tersebut, berupa hutan asli (Virgin Forest) dan dilindungi (no deforestasi) Oleh UU No. 41 tahun 1999 (Tentang Kehutanan), UU No. 5 tahun 1990 (Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem), dan UU No. 26 tahun 2007 (Tentang Penataan Ruang) untuk “rumahnya” satwa-satwa liar (seperti Orang Utan, Mawas, Harimau Sumatera, Gajah, Badak Bercula, Komodo dan Lain-lain) dan biodiversity lainnya.
| Fungsi High Conservation Value (HCV) Hutan | ||||
| Lindung dan Konservasi di Indonesia | ||||
| Uraian | Dataran | Perairan | ||
| Unit | Ha | Unit | Ha | |
| 1. Pelestarian Alam | ||||
| a. Cagar Alam | 222 | 3.957.691 | 5 | 152.610 |
| b. Suaka Marga Satwa | 71 | 5.024.138 | 4 | 5.588 |
| 2. Konservasi Sumber Daya Alam | ||||
| a. Taman Nasional | 43 | 12.328.523 | 7 | 4.043.541 |
| b. Taman Wisata Alam | 101 | 257.323 | 14 | 491.248 |
| c. Taman Hutan Rakyat | 23 | 351.680 | – | – |
| d. Taman Buru | 13 | 220.951 | – | – |
| Sumber: Statistik Kementerian Kehutanan, 2013 | ||||