JAKARTA — Produksi minyak sawit Indonesia diproyeksikan turun hingga 2 juta ton pada 2026 akibat dampak El Nino dan meningkatnya biaya pupuk. Ancaman tersebut terutama membayangi Riau, salah satu sentra produksi sawit terbesar di Indonesia, yang menghadapi kondisi kekeringan berat.
Menurut laporan Bastille Post Global, pola iklim yang menekan curah hujan dan meningkatkan suhu itu mengancam produktivitas sekitar 1,7 juta hektare kebun sawit rakyat di Riau.
Badan meteorologi Indonesia memperingatkan bahwa Riau akan mengalami curah hujan di bawah normal hingga kategori menengah sampai Oktober. Sejumlah kabupaten disebut telah mencatat tingkat kelembapan tanah yang sangat rendah, sedangkan tanaman sawit memerlukan pasokan air yang konsisten sepanjang masa pertumbuhan.
Petani buah sawit Yulius Dwi mengatakan produksi kebun yang dalam kondisi normal dapat mencapai sekitar tiga ton per hektare per bulan bisa merosot 50–70 persen saat cuaca ekstrem. Penurunan hasil tersebut berpotensi menimbulkan kerugian finansial langsung bagi petani.
Pengelola kebun di Riau, Andrei, juga mengingat pengalaman El Nino sebelumnya ketika target produksi bulanan per hektare tidak tercapai dan aktivitas angkutan di tempat pengumpulan hasil ikut terhenti.
Indonesia menghasilkan lebih dari 51 juta ton minyak sawit pada 2025. Pada 2026, produksi nasional diperkirakan berkurang hingga 2 juta ton, terutama dipengaruhi El Nino dan kenaikan biaya pupuk. Perkembangan indikator pasar terkait komoditas ini dapat dipantau melalui data harga CPO GIMNI.
Badan meteorologi meminta pengelola perkebunan memperkuat sistem pengelolaan air dan terus memantau kondisi cuaca hingga akhir 2026. Namun, laporan tersebut mencatat bahwa petani kecil memiliki keterbatasan sumber daya untuk menerapkan langkah-langkah tersebut.
Sumber: Bastille Post Global, 10 Agustus 2026.