JAKARTA – Produksi oleopangan yang melemah selama masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diproyeksi akan terangkat pada kuartal terakhir 2021.

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mencatat produksi oleopangan pada kuartal III/2021 sebesar 1,72 juta ton, turun dari kuartal sebelumnya 1,92 juta ton. Adapun, produksi pada kuartal pertama tercatat sebesar 1,83 juta ton.

Ketua Umum GIMNI Sahat Sinaga meramal angka tersebut akan meningkat menjadi 1,85 juta ton pada kuartal IV/2021. Sehingga total produksi untuk sepanjang tahun ini akan menjadi 7,3 juta ton, atau tumbuh 12 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

“Penyebab utama [penurunan pada kuartal III] persoalan pandemi sehingga konsumsi masyarakat menurun, tetapi sudah mulai baik lagi,” katanya kepada Bisnis, Rabu (13/10/2021).

 

Adapun produk yang termasuk oleopangan antara lain, margarine, shortening, dan tiga jenis minyak goreng, yang dijual di pasar modern, pasar tradisional, dan yang digunakan industri.

Pada tahun lalu, GIMNI diketahui menurunkan target volume produksi dari awalnya 7,1 juta ton menjadi sekitar 6,4 juta ton karena pandemi.

Sementara itu, mengenai harga minyak goreng di pasaran, Sahat meyakini akan bertahan di angka Rp13.100 per liter sampai akhir tahun dari September di kisaran Rp12.500 per liter.

 

Kenaikan harga ini didorong turunnya produksi minyak lunak – seperti minyak kedelai, biji bunga matahari, zaitun, dan sebagainya – di sejumlah negara seperti Argentina dan Kanada.

“Maka orang berlomba-lomba mendapatkan minyak sawit terutama di China yang luar biasa kebutuhannya,” ujar Sahat.

 

Sumber: Bisnis.com