Program B30 Berlanjut, Harga CPO Berpotensi US$ 750/Ton

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pemerintah diminta mempertahankan atau memperluas mandatori biodiesel di tahun depan. Kebijakan ini dinilai berhasil menyeimbangkan suplai dan permintaan sehingga tren harga CPO bergerak positif.

Togar Sitanggang, Wakil Ketua Umum III GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), menuturkan jika pemerintah memutuskan untuk melanjutkan mandatori B30 di tahun 2021, maka akan ada peningkatan konsumsi sekitar 12% dan mendorong harga minyak sawit menjadi US$750-US$850/mt.

Sebaliknya, jika Indonesia kembali kepada B20 maka akan ada penurunan konsumsi sekitar 25%, yang diperkirakan akan membentuk harga sawit di kisaran US$600-US$700/mt. Analisis ini disampaikannya saat berbicara di Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2020 yang diselenggarakan secara virtual pada Kamis, (3 Desember 2020).

Memasuki tahun 2021, Togar memproyeksikan akan terjadi kenaikan terhadap kinerja sawit jika vaksin didistribusikan dengan baik. “Diperkirakan produksi miyak sawit meningkat sekitar 3,5% dan konsumsi industri makanan meningkat sekitar 2,5%. Sementara kinerja ekspor sawit akan sangat bergantung terhadap kondisi ekonomi global, namun diperkirakan akan meningkat hingga 11,5% jika kondisi ekonomi mulai berangsur pulih,” katanya.

Produksi minyak sawit mentah (CPO) hingga akhir 2020 diprediksi naik tipis 0,43% dari 47,18 juta ton pada 2019 menjadi 47,41 juta ton (prediksi hingga akhir Desember 2020). Sementara itu, penyerapan minyak sawit untuk biodiesel diperkirakan mencapai 7,2 juta ton sampai akhir tahun ini.

Togar mengatakan penggunaan minyak sawit untuk industri oleochemical mendominasi konsumsi domestik yaitu sekitar 1,57 juta ton meningkat 48,96% dari tahun 2019.

“Hal ini didorong permintaan pasar untuk bahan baku sabun serta pembersih lainnya yang meningkat selama pandemi Covid-19,” katanya.

Sementara itu, permintaan minyak sawit untuk industri makanan mengalami penurunan akibat adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar sehingga restoran dan hotel banyak yang menutup operasinya pada tahun 2020.

Togar juga menyampaikan analisisnya terkait program mandatori biodiesel B30. Meskipun pemerintah telah menaikkan levy (pungutan ekspor) namun karena pasar ekspor yang masih melemah, dana dari pungutan ekspor belum tentu maksimal.

Hingga September 2020, GAPKI mencatat total ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 24,08 juta ton dengan nilai ekspor mencapai US$ 15,49 miliar. Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia.

Togar Sitanggang mengharapkan pemulihan permintaan minyak sawit di Tiongkok pada 2021 seiring dengan pemulihan ekonomi paska Covid-19. Sebelumnya, penurunan permintaan di Tiongkok terjadi pada bulan Maret 2020 akibat penutupan akses beberapa pelabuhan namun ekspor perlahan meningkat pada Juli 2020.

 

Sumber: Sawitindonesia.com