Jakarta – Industri minyak kelapa sawit (CPO) nasional terus berupaya meningkatkan nilai tambah produknya dengan memperhatikan aspek yang ramah lingkungan. Dalam hal ini, peran riset dan teknologi menjadi sangat penting dalam pengembangan inovasi produk industri.

“Saat ini, tengah dikembangkan bio ester, produk turunan dari CPO yang memiliki nilai tambah cukup tinggi,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara di Jakarta, sebagaimana disalin dari siaran resmi.

Menurut Ngakan, teknologi yang digunakan untuk menghasilkan produk bio ester adalah melalui pendekatan baru dalam proses trans-esterifikasi dari minyak nabati khususnya minyak sawit. “Kami yakin produk ini lebih bernilai tambah tinggi, karena nilai tambah produk turunan sawit seperti produk kosmetik dapat mencapai enam kali lipat jika dibandingkan dengan CPO,” ungkapnya.

Dari bio ester ini, bisa dimanfaatkan lagi untuk penggunaan di berbagai produk manufaktur lainnya, seperti industri farmasi, kosmetik, makanan, pertanian, perikanan, minyak dan gas, pertahanan, produk konsumen rumahan sampai pelumas industri.

Salah satu perusahaan di Indonesia yang telah berhasil menciptakan produk bio ester adalah eBio Advanced Technology (eBio) selaku perusahaan asal Jerman, yang bekerja sama dengan PT. Servotech sebagai mitra lokalnya. Didirikan pada tahun 2013, eBio merupakan perusahaan pemegang lisensi untuk teknologi eBio yang ditemukan dan dipatenkan Fraunhofer IW.

Fraunhofer IW sebuah lembaga riset rekayasa proses dan kemasan di bawah Fraunhofer-Gesellschaft yang berbasis di Jerman. Fraunhofer-Gesellschaft sendiri adalah organisasi riset terbesar di Eropa yang memiliki 69 lembaga riset di Jerman, dengan dukungan 24 ribu peneliti.

Lebih lanjut, Ngakan memberikan apresiasi kepada eBio atas komitmen untuk melakukan investasi di bidang pengembangan produk yang sarat akan inovasi teknologi. Perusahan tersebut melalui proses riset telah berhasil mengembangkan produk, antara lain bio degradable berkualitas tinggi sena ramah lingkungan, di tambah dengan harga produk yang sangat kompetitif dibandingkan dengan produk sejenis di pasar.

“Untuk mengembangkan lebih jauh produk-produk akhir turunan sawit ini, eBio nantinya akan berkolaborasi dengan Balai Besar serta Balai Riset dan Standardisasi di seluruh Indonesia,” tuturnya. Balai-balai tersebut berupakan unit pelayanan teknis yang dimiliki oleh Kemenperin, dibawah binaan BPPI.

Apalagi, BPPI sudah memiliki Balai Pengembangan Produk dan Standardisasi Industri Pekanbaru yang fokus terhadap pengembangan produk turunan sawit.

“Sinergi antara swasta dengan pemerintah ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang nyata bagi peningkatan perekonomian masyarakat,” imbuhnya.

Ngakan berharap, selain untuk memenuhi pasar dalam negeri, produk bio ester ditargetkan bisa mendongkrak nilai ekspor produk turunan CPO. Pada tahun 2017, nilai ekspor minyak kelapa sawit Indonesia sebesar 31,05 juta ton atau naik 23 persen dibandingkan tahun 2016 yaitu mencapai 25,11 juta ton. Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Group Chairman eBio, Toshi Nakajima mengatakan, pihaknya ingin bio ester menjadi produk revolu-. sioner yang dapat menggantikan minyak berbasis mineral dan minyak sintetis. “Kami masih berfokus pada strategi pemasaran untuk mendapatkan kepercayaan dari pelaku industri besar, termasuk instansi litbang serta pemerintah,” terangnya.

Dalam memproduksi bio ester, saat ini pabrik eBio masih memiliki satu Uni produksi. “Jika sudah full berproduksi, perkiraan produk yang dihasilkan adalah sekitar 15 ton per hari per Uni produksi,” kata Nakajima.

eBio terus menjajaki potensi kerja sama dengan beberapa klien untuk menghasilkan bio ester berkualitas tinggi di Indonesia.

 

Sumber: Harian Ekonomi Neraca