,

Sahat Sinaga demi Kelancaran Program BBN: 4 Syarat Peningkatan Produktivitas Kebun Sawit

Meskipun kelapa sawit memiliki manfaat dan potensi yang mahadahsyat, permasalahan di sektor hulu seperti produktivitas yang rendah hingga tumpang tindih lahan masih belum menemukan titik terang.

Ketua Umum Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia (MBI), Sahat Sinaga, dengan lantang meminta pemerintah untuk memberikan kepastian lahan petani sawit yang berada di kawasan hutan. Hal tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran Sahat terkait program Bahan Bakar Nabati (BBN) yang dapat terancam karena persoalan pasokan bahan baku.

Lebih lanjut Sahat mengatakan, “Produksi sawit Indonesia harus 61,4 juta ton pada 2024 untuk penuhi kenaikan permintaan bagi bahan bakar nabati. Target ini bisa dicapai asalkan didukung petani swadaya. Persoalan sekarang, banyak lahan petani belum clear dan diklaim di kawasan hutan.”

Terkait program replanting, menurut Sahat, kegiatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) petani seharusnya mencapai 3,7 juta hektare sepanjang periode 2020–2024. Program PSR ini ditargetkan akan meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat mencapai 18,2 ton per ha per tahun.

“Lahan petani terlambat diremajakan karena masalah legalitas dan kebun diklaim masuk kawasan hutan. Sebaiknya, lahan sawit petani di kawasan hutan segera diputihkan. Karena, kita perlu 3,7 juta hektare kebun sawit rakyat di-replanting. Tersedia pendanaan replanting dengan bunga rendah untuk 4 tahun ke depan berkisar Rp2 triliun,” ungkap Sahat.

Dalam upaya peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat, Sahat mengusulkan empat prasyarat. Pertama, meningkatkan rendemen minyak sawit (oil extraction rate/OER) dari TBS petani. Kedua, diperlukan tenaga-tenaga muda yang kreatif, jujur, dan inovatif, berkeinginan untuk bekerja keras dan mengelola kebun-kebun sawit para petani.

Ketiga, areal kebun sawit petani harus bebas dari zona “hutan” (diputihkan–ada political will) agar memiliki jaminan berusaha. Keempat, kebun sawit petani diharapkan dapat lebih produktif ke level di atas 21 ton TBS per hektare per tahun melalui peningkatan manajemen perkebunan dan praktik budi daya yang baik (good agriculture practices/GAP).

Sumber: Wartaekonomi.co.id