Palm Oil Today

Sahat Sinaga Pertanyakan Biaya B50, Usulkan Pemilahan Sawit untuk Pangan dan Energi

30 Oct 2026

Sejumlah orang berdiri di panggung pada rangkaian penyerahan penghargaan konferensi energi.

JAKARTA — Sahat M. Sinaga mempertanyakan biaya pengembangan bahan bakar nabati sawit ketika membahas B50 di Energy Leadership & Business Conference (ELBC) 2026, Jumat (30/10). Alih-alih menjadikan persentase campuran sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) itu meminta perhatian pada harga bahan baku, pilihan proses, kesesuaian mesin, dan emisi dari pabrik sawit.

Sejumlah orang berdiri di panggung pada rangkaian penyerahan penghargaan konferensi energi.

Dokumentasi penyerahan plakat pada rangkaian ELBC 2026; bukan dokumentasi paparan tentang B50.

Program ASPEBINDO menempatkan Sahat sebagai pembicara pada sesi kedaulatan dan keamanan energi di Gedung B.J. Habibie BRIN, Jakarta. Materi presentasinya mencantumkan pula jabatannya sebagai pelaksana tugas Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI). Rekaman yang tersedia dalam bentuk transkrip otomatis memuat kritiknya terhadap kebanggaan pada B50 dan pertanyaan mengapa biofuel sawit dibuat mahal. Angka-angka biaya yang terdengar dalam transkrip tidak cukup jelas untuk dijadikan perbandingan harga yang teruji, sehingga tidak dipakai di sini.

Fraksi mana untuk energi?

Dalam paparan lisan, Sahat mengusulkan agar minyak sawit tidak diperlakukan sebagai satu aliran bahan baku seragam. Menurut dia, fraksi cair dan fraksi padat memiliki kegunaan serta nilai ekonomi berbeda; fraksi padat yang dinilainya lebih murah dapat diarahkan ke bahan bakar. Bahan presentasinya menjabarkan gagasan pemisahan itu sebagai olein untuk pangan dan stearin untuk energi dalam model usaha yang ia tawarkan.

Usulan tersebut adalah rancangan alokasi bahan baku, bukan bukti bahwa pemisahan fraksi otomatis menurunkan harga akhir biofuel. Biaya fraksinasi, mutu bahan baku, rendemen, kebutuhan pengolahan lanjutan, dan harga pasar masing-masing produk tetap perlu dihitung. Data pembanding mengenai komoditas sawit dapat dilihat di halaman harga CPO GIMNI, tetapi harga CPO tidak dengan sendirinya menunjukkan biaya produksi biodiesel atau harga energi per barel.

Sahat juga meminta Indonesia tidak selalu menyesuaikan pilihan bahan bakar pada mesin yang tersedia. Dalam transkrip, ia menyerukan pengembangan mesin yang sesuai dengan bahan bakar alternatif. Materi tertulisnya menawarkan jalur lain: mengolah senyawa sawit melalui hidrodeoksigenasi atau dekarboksilasi menjadi bahan bakar hidrokarbon. Keduanya merupakan pilihan teknologi yang perlu dibedakan dari biodiesel berbasis FAME, bukan hasil yang otomatis diperoleh hanya dengan memisahkan stearin.

Membaca batas teknis dengan tepat

FAME, produk transesterifikasi minyak atau lemak, merupakan ester yang mengandung oksigen; sifatnya tidak sama dengan solar fosil. Minyak sawit sebagai bahan baku terutama tersusun dari trigliserida, sehingga tidak tepat disebut sekadar hidrokarbon yang hanya perlu dibuang gugus karboksilnya. HVO, atau minyak nabati terhidrogenasi, merupakan bahan bakar hidrokarbon dari jalur proses berbeda; ia bukan nama lain bagi FAME maupun campuran B50.

Materi Sahat menggambarkan B100 sebagai pilihan untuk mesin tertentu, tetapi di bagian lain menyatakan FAME tidak dapat dipakai 100 persen. Pernyataan terakhir terlalu mutlak. Alternative Fuels Data Center milik Departemen Energi Amerika Serikat menjelaskan bahwa B100 dapat digunakan pada sebagian mesin dengan material yang kompatibel, walau memerlukan perhatian pada mutu, penanganan, kemungkinan modifikasi peralatan, cuaca dingin, dan garansi. Karena itu, tingkat campuran yang layak tidak dapat disimpulkan hanya dari kandungan oksigen FAME; spesifikasi bahan bakar dan persetujuan pembuat mesin turut menentukan.

Di bagian penutup materinya, DMSI menyatakan tiga syarat untuk peran sawit sebagai penyangga energi: harga dan bahan baku yang masuk akal, ketepatan teknis, serta emisi yang benar-benar rendah. Sahat menghubungkan syarat terakhir dengan perubahan di pabrik, termasuk penanganan limbah cair. Paparan ini menyampaikan posisi dan rancangan yang ia ajukan, bukan penetapan bahwa semua teknologi yang ditawarkan telah terbukti ekonomis atau bahwa B50 harus dilarang. Evaluasi kebijakan memerlukan data biaya yang dapat diperiksa, pengujian mesin, serta pengukuran emisi dengan batas perhitungan yang jelas.

Sumber liputan

Liputan langsung Sekretariat GIMNI di Energy Leadership & Business Conference 2026, Gedung B.J. Habibie BRIN, Jakarta, 30 Oktober 2026.