Sawit Jadi Katalis Pertumbuhan

Harga komoditas penting lainnya, seperti minyak dan batu bara masih mengalami tekanan.

KEPALA Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai dampak kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akan membayangi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun.

“Perkembangan ekonomi sektoral kuartal III dan IV dibayangi risiko dampak penerapan PSBB di wilayah DKI Jakarta sejak 14 September lalu dan peningkatan kasus covid-19,” ungkapnya dalam acara Media Gathering Economic Outlook Kuartal III 2020 secara daring, kemarin.

Secara sektoral, lanjut Andry, sektor jasa seperti perdagangan, transportasi, hotel, restoran, dan jasa-jasa perusahaan akan mengalami pemulihan yang relatif lambat dari perkiraan semula akibat peningkatan kasus positif covid-19.

“Demikian pula sektor industri pengolahan, pemulihannya mengikuti pola umum peningkatan ekonomi nasional karena sangat tergantung perbaikan daya beli dan confidence masyarakat sehingga mulai membelanjakan uangnya,” lanjutnya.

Kendati demikian, sektor komoditas kelapa sawit dinilai mampu menjadi katalis positif yang mendorong perekonomian Indonesia ke depan, terutama di sentra-sentra perkebunan di Sumatra dan Kalimantan.

Harga minyak kelapa sawit sejak Juni sudah membaik dengan cepat dan sudah mencapai US$753 per ton atau sudah sama dengan sebelum harga covid-19 pada Desember 2019. Harga karet pun membaik sebesar 20% (ytd) mencapai US$2 per kilogram.

“Harga minyakkelapa sawitsampai akhir tahun kami perkirakan masih akan bertahan di tingkat harga US$700 per ton (FOB Malaysia),” ujar Andry.

Namun, harga-harga komoditas penting bagi perekonomian Indonesia selama pandemi covid-19 masih tertekan. Sampai dengan 20 September 2019, harga minyak mentah turun sebesar 33% (ytd) atau berada di kisaran US$43 per barel dan harga batu bara pun turun sebesar 23% atau berada di tingkat US$32 per ton.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Komisi XI DPR Dito Ganinduto mengatakan dampak resesi ekonomi di Indonesia tidak akan berkepanjangan asalkan pemerintah terus mengakselarasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), terutama penyaluran jaring pengaman sosial.

Menurut Dito, meski proyeksi pemerintah soal pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali minus di kuartal III 2020, lebih baik ketimbang realisasi kuartal II yang terkontraksi lebih dalam hingga ke minus 5,23%.

“Ini menunjukkan bahwa di kuartal III ada momentum perbaikan perekonomian meskipun kuartal III negatif,” ujarnya.

IHSG masih merah Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan sesi kedua ditutup melemah seiring tekanan aksi jual asing.

IHSG ditutup melemah 75,2 poin atau 1,53% ke posisi 4.842,76. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 14,18 poin atau 1,88% menjadi 740.

Analis Indo Premier Sekuritas Mino mengatakan IHSG turun karena kombinasi sentimen negatif dari eksternal dan internal.

“Dari eksternal, yaitu melemahnya bursa Wall Street. Dan dari internal masih adanya sentimen negatif dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal tiga, serta masih terus bertambahnya kasus baru covid-19. Volume perdagangan yang relatif tidak besar dan net sell asing juga menjadi tambahan tekanan di pasar,” tandasnya.

 

Sumber: Media Indonesia