Sawit Kaltim Tembus Tiongkok

SAMARINDA – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Karantina Pertanian Samarinda di Kalimantan Timur (Kaltim) memfasilitasi sertifikasi ekspor minyak sawit berupa RBD (Refined Bleached Deodorized) Palm Stearin sebanyak 12 ribu ton dan RBD Palm Olein sebanyak 3.000 ton dengan nilai ekonomi sebesar Rp 117 miliar yang akan diekspor untuk pertama kali ke Tiongkok. Selama ini, minyak sawit asal Kaltim hanya dilalulintaskan secara antararea.

Kepala Karantina Pertanian Samarinda Cahyono mengatakan, berkat Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) yang dideklarasikan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan disosialisasikan kepada petani maupun para pengusaha di sektor pertanian untuk mendorong potensi ekspor di Kaltim maka saat ini minyak sawit Kaltim sudah menjadi komoditas ekspor. “Keberhasilan produk kelapa sawit berupa minyak sawit asal Kaltim ini mampu menembus pasar Tiongkok merupakan pencapaian penting, karena negara tujuan ekspor tersebut membuat persyaratan yang ketat harus memenuhi persyaratan Import Health Standar (IHS) dan ini harus dipertahankan supaya ekspor berkelanjutan dan meningkat,” kata dia seperti dilansir Antara.

Cahyono menerangkan, untuk mendukung Gratieks maka Karantina Pertanian Samarinda melakukan percepatan pelayanan tindakan karantina dan juga secara rutin memberikan bimbingan teknis pemenuhan persyaratan sanitari dan fitosanitari, SPS Measure, sesuai yang dipersyaratkan negara tujuan ekspor. Tidak hanya minyak kelapa sawit, dengan adanya Gratieks Karantina Pertanian Samarinda juga rutin setiap bulan melayani sertifikasi ekspor produk kelapa sawit lainnya berupa (Palm Kernel Expeller) PKE dan cangkang kelapa sawit. Berdasarkan data IQFAST Karantina Pertanian Samarinda, permohonan sertifikasi untuk ekspor PKE dan cangkang kelapa sawit meningkat sifni-fikan. Selama semester 1-2020 sebanyak 14.400 ton PKE dengan nilai ekonomis Rp 64,80 miliar dan cangkang kelapa sawit sebanyak 3.900 ton dengan nilai ekonomis Rp 5,90 miliar. Selama 2019, tercatat PKE hanya 5.900 ton dengan nilai ekonomis Rp 26,70 miliar dan cangkang kelapa sawit tidak ada permohonan sertifikasi,

 

Sumber: Investor Daily Indonesia