InfoSAWIT, JAKARTA – Hampir rata-rata area pekebunan kelapa sawit dibangun tepat dipelosok wilayah Indonesia, bahkan tidak sedikit pula yang lokasinya jauh dan sulit untuk dicapai, lantaran masih minimnya sarana transportasi dan infrastruktur jalan yang kurang layak.

Namun bukan hanya itu, kondisi masyarakat di pelosok juga faktanya masih memegang erat budaya nenek moyang, atau kerap disebut adat istiadat. Kendati budaya modern terus merambah hingga pelosok wilayah, tetapi penerapan perilaku budaya lokal yang kental masih banyak ditemui di banyak wilayah di Indonesia.

Fakta lainnya, tidak sedikit pula masyarakat adat yang berdekatan langsung dengan area perkebunan kelapa sawit. Sebab itu pengembangan perkebunan kelapa sawit tidak bisa begitu saja mengabaikan budaya lokal yang sudah dianut secara turun temurun dari para leluhur, sebelum perkebunan kelapa sawit itu dibangun.

Sebab itu kearian lokal tetap harus dijaga, sinergisitas antara budaya lokal dan pengembangan perkebunan kelapa sawit mesti secara bersama dilakukan secara berdampingan dan saling mendukung satu sama lain, ini juga menjadi bukti bahwa perkebunan kelapa sawit layak secara sosial, dalam konsep praktik berkelanjutan (sustainability).

Salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional, Bumitama Gunajaya Agro (BGA) group, memahami bahwa dengan tetap menghormati dan menjaga kearifan lokal, merupakan modal kuat untuk pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Dengan menjaga kearifan lokal tentunya dapat menciptakan harmonisasi antara perusahaan dengan masyarakat adat.

Sebab itu BGA Group sangat mendukung dan terus berpartisipasi dalam melestarikan serta mensosialisasikan kearifan lokal tersebut kepada karyawan. Ini menjadi sangat penting terlebih perusahaan juga bermitra dengan masyarakat lokal dengan konsep perkebunan inti-plasma.

Harapannya, ketika karyawan mendampingi masyarakat dalam membudidayakan kelapa sawit lewat skim tersebut tidak menghadapai kendala. Diungkapkan Direktur CA & Partership BGA Group, Priyanto PS, hingga saat ini BGA Group memiliki kebun plasma di Pulau Kalimantan yakni di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar). Kebun plasma tersebut diharapkan menjadi sumbangsih perusahaan dalam membangun bangsa dan negara, khususnya kepada masyarakat lokal sekitar kebun.

“Dalam perkembangannya, masalah dalam pembangunan kebun plasma sangat dinamis. Sebab itu harapannya dengan bekerjasama dengan Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng dapat memberikan gambaran dan bimbingan kepada karyawan BGA. Sehingga apabila terdapat potensi konflik sosial, bisa diantisipasi sedini mungkin.” ujar Priyanto.

Sementara diungkapkan Head of Corporate Affair BGA Kalteng Iwan Kusnandar, dengan adanya kerjasama dengan masyarakat lokal dan dewan adat harapannya karyawan BGA Group bisa memahami dan dapat menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat yang sangat menghormati kearifan lokal.

Lebih lanjut tutur Iwan, menyitir pepatah Minang, “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” maka penghormatan dan pelestarian budaya lokal mesti dilakukan. Guna mencapai tujuan tersebut, BGA Group Kalteng bersama anak perusahaannya, menyelenggarakan kegiatan penyuluhan kepada seluruh karyawan mengenai kearifan lokal, khususnya budaya dan adat istiadat Dayak. Kegiatan penyuluhan itu bekerjasama dengan Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng.

Kegiatan ini dilakukan secara online dan serentak dilaksanakan di seluruh anak perusahaan BGA yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat. “Penyuluhan diadakan secara online kepada seluruh karyawan dengan narasumber dari pihak DAD Kalteng.” jelasnya.

Penyuluhan tentang kearifan atau masyarakat adat itu dilaksanakan di dua wilayah di operasional BGA Kalteng. Pertama di Kecamatan Antang Kalang dan Kecamatan Telaga Antang. Kedua, dilaksanakan di Kecamatan Cempaga Hulu, Kab. Kotawaringin Timur, Kalteng. “Dimana peserta penyuluhan ini adalah manajemen dan staf yang berada di operasional,” ungkap Iwan.

Selain melakukan pemahaman kepada karyawan, tindakan langsung dalam mendukung budaya lokal juga dilakukan, misalnya yang belum lama ini dilakukan anak usaha BGA Group, PT Agriplus, pada awal September 2020 lalu di Desa Riam Batu Gading Kec. Marau, dengan melakukan kegiatan perbaikan dan pembersihan halaman rumah adat setempat.

Kegiatan perbaikan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat, khususnya pihak Pengurus Desa, Pemerintah Kabupaten, masyarakat dan Perusahaan. Dukungan perusahaan dalam kegiatan tersebut melakukan pembersihan pekarangan rumah adat menggunakan alat berat, dikarenakan terdapat tunggul bekas tebangan pohon besar sehingga tidak dapat dibersihkan secara manual.

Seusai dilakukan perbaikan dan pembersihan halaman rumah adat, Bupati Ketapang Martin Rantan meresmikan rumah adat yang baru direnovasi tersebut, didampingi oleh Pj. Kades Riam Batu Gading, Esai Londong. Hadir juga pada kesempatan tersebut Camat Marau, Kadis PMD, Kadis Pendidikan, Kadis Kesehatan, Kadis Disbudparpora, Kadis Distanakbun.

Rencananya rumah adat ini akan dihidupkan dengan berbagai kegiatan adat istiadat oleh masyarakat setempat. Sehingga Rumah Adat tersebut harapannya bisa menjadi wahana melestarikan, dan mengembangkan budaya lokal setempat. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com