,

Senator Riri: Merangkak Naik, Kendalikan Harga Minyak Goreng

 

 

Komoditas minyak goreng di Bengkulu mulai merangkak naik. Hal ini tampak dari pengakuan sejumlah pedagang di pasar-pasar tradisional di Kota Bengkulu yang menyatakan kenaikan harga tersebut terjadi secara perlahan-lahan sejak awal tahun 2021.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief meminta kepada Kementerian Perdagangan untuk melakukan langkah-langkah antisipasi agar kenaikan harga minyak goreng tidak membuat susah masyarakat di daerah-daerah.

“Saya senang harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO (crude palm oil) meningkat. Karena ini artinya petani kelapa sawit bisa sejahtera. Tapi tidak berarti harga minyak goreng dibiarkan naik sampai menyusahkan masyarakat. Daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dari pandemi covid-19,” kata Hj Riri Damayanti John Latief, Senin (1/11/2021).

Wakil Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Provinsi Bengkulu ini menjelaskan, tak hanya masyarakat kecil, kenaikan harga minyak goreng ini juga akan menyulitkan perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) khususnya yang membutuhkan komoditas tersebut dalam menjalankan usahanya.

“Kalau pada akhirnya banyak yang terpaksa memakai minyak goreng secara berulang-ulang karena keberatan membeli minyak goreng yang baru, dampaknya jadi ke kesehatan masyarakat. Jadi harus ada solusi dengan segera, jangan sampai terlambat,” ungkap Hj Riri Damayanti John Latief.

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur (SEMAKU) ini menegaskan pentingnya operasi pasar sebagai solusi jangka pendek dan cepat untuk merem harga minyak goreng agar tidak melambung tinggi di lokasi-lokasi strategis.

“Operasi pasar ini untuk jangka pendek saja. Jangka panjang harus ada pengendalian harga yang lebih baik. Semisal ada ulah-ulah oknum nakal yang bermain yang menyimpan dan melepas CPO ketika harganya naik, tindak tegas jangan pakai ampun,” papar Hj Riri Damayanti John Latief.

Alumni Magister Manajemen Universitas Bengkulu ini menambahkan, upaya pengendalian harga minyak goreng ini harus diprioritaskan ketimbang agenda-agenda lainnya karena komoditas ini bertali-temali dengan banyak komoditas lainnya.

“Mayoritas makanan sangat bergantung dengan minyak goreng. Di Bengkulu memang belum banyak yang mengeluhkan hal ini tapi dampaknya mulai terasa karena mulai mendongkrak harga komoditas yang lain. Jadi perlu antisipasi cepat,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Untuk diketahui, harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO secara internasional meningkat dan berimbas pada melonjaknya harga minyak goreng di pasar Indonesia.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga menyatakan, naiknya harga CPO global menyebabkan harga CPO nasional ikut melambung serta mempengaruhi biaya produksi industri minyak goreng kelapa sawit.

 

Sumber: Pedomanbengkulu.com