Pontianak – Pemerintah Kabupaten Sintang mulai mendata keberadaan petani kelapa sawit swadaya yang tersebar di seluruh kecamatan di daerah itu, untuk mendorong penggunaan konsep berkelanjutan pada komoditas tersebut.

Bupati Sintang Jarot Winarno ingin kabupaten yang dipimpinnya bisa menjadi contoh terbaik penerapan petani kelapa sawit swadaya berkelanjutan di seluruh Indonesia. Menurutnya, petani swadaya menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sintang dan terus didorong agar dapat memperoleh sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil System (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Pendataan sudah dimulai dari tingkat desa. Data potensi petani mandiri itu belum pasti, maka perlu pendataan dan melibatkan semua kepala desa. Kalau sudah ada data, enak pembinaannya,” kata Jarot dalam peluncuran Program Kemitraan Untuk Pertumbuhan Baik dalam Mendukung Produksi Komoditas Berkelanjutan di Kabupaten Sintang, Selasa (19/12/2017).

Program itu mendapat dukungan dari United Nations Development Programme (UNDP) dan World Wide Fund (WWF) Indonesia. Skema dukungannya yaitu Pengurangan Deforestasi dari Produksi Komoditas Berkelanjutan selama 2018-2019.

Indonesia Good Growth Partnership (GGP) Specialist UNDP Pisca Tias mengatakan Sintang diusulkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) untuk masuk dalam platform sawit berkelanjutan bersama daerah-daerah di provinsi lain seperti Riau, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Barat.

“Kami ingin melihat kesiapan Sintang dalam penerapan program berkelanjutan ini dan Sintang sebagai salah satu kabupaten yang menjadi pilot project. Ada 3 komponen GGP ini,” sebut dia.

Pertama, komponen dialog dengan rencana aksi kebijakan dan pengakuan. Kedua, komponen sistem dukungan untuk petani. Terakhir, komponen perencanaan penggunaan lahan dan pemetaan.

Diharapkan nantinya para petani swadaya tersebut memiliki ISPO dan Pemerintah Indonesia dapat mempromosikan kawasan yang memperoleh sertifikat itu.

 

Sumber: Bisnis.com