,

Stok CPO Indonesia Turun

Bisnis, JAKARTA – Jumlah cadangan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia diprediksi mencapai jumlah terendahnya sejak Maret 2019 seiring dengan tingginya konsumsi selama periode Ramadan tahun ini.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyebutkan bahwa jumlah stok CPO Indonesia dapat berada di posisi 3,1 juta ton pada akhir April 2021. Sahat menuturkan jumlah cadangan CPO pada Maret lalu adalah sebesar 3,2 juta ton.

Jumlah tersebut berada di bawah estimasi sebanyak 7 analis pada survei Bloomberg yang menyatakan rerata stok CPO negara produsen terbesar di dunia itu sebanyak 3,72 juta ton.

“Jumlah pengiriman akan naik 18% ke 3,08 juta ton pada April 2021 dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” kata Sahat.

Dia melanjutkan, pada April 2021, permintaan CPO domestik diprediksi akan naik 2,5% menjadi 1,63 juta ton.

Sementara itu, produksi CPO Indonesia pada bulan ini diprediksi tumbuh 14% menjadi 4 juta ton berbanding 3,5 juta ton pada Maret lalu.

Jumlah tersebut akan menjadi output terbesar sejak Desember 2020 lalu dan menyamai total produksi April 2020.

Bulan Ramadan resmi dimulai pada 13 April lalu yang kemudian diikuti oleh Idulfitri atau Lebaran. Bulan Ramadan dan Lebaran umumnya mendorong kenaikan permintaan terhadap CPO.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan kemarin harga CPO kontrak teraktif di Bursa Malaysia terkoreksi

1 % ke level 3.887 ringgit per ton. Koreksi terjadi setelah pada Jumat harga sempat diperdagangkan di level 4.084 sebelum akhirnya ditutup pada 3.927 ringgit per ton. Sementara itu, harga CPO berjangka kontrak pengiriman Juni turun 34 poin pada harga 4.125 ringgit per ton.

Kenaikan harga pekan lalu salah satunya didorong oleh data ekspor produk CPO Malaysia untuk periode 1 -20 April yang naik 10,2% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Kendati demikian, kenaikan angka ekspor tersebut berada dibawah ekspektasi pasar.

Di sisi lain, lonjakan kasus virus corona di India yang merupakan importir CPO terbesar dunia jadi sentimen negatif yang memudarkan sedikit optimisme pasar.

 

Sumber: Bisnis Indonesia