Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dikembalikan ke kebun bukan sekadar penutup tanah. Bahan ini membawa unsur hara, tetapi tidak semuanya tersedia bagi tanaman pada saat yang sama. Dua penelitian Lim dan Zaharah pada sawit menghasilkan di Malaysia menunjukkan perbedaan yang penting: kalium (K) keluar cepat dari tandan yang melapuk, sedangkan pelepasan nitrogen (N) dari bahan itu tidak terdeteksi selama sepuluh bulan pengamatan pertama. Hasil uji lanjutan juga memperlihatkan respons daun, tanah, dan hasil ketika TKKS dipadukan dengan pupuk mineral. Perbedaan waktu pelepasan itu perlu dibaca bersama kondisi percobaannya, bukan dijadikan janji bahwa TKKS menggantikan seluruh pupuk.
Percobaan di gawangan sawit menghasilkan
Penelitian dekomposisi yang terbit pada 2000 menempatkan TKKS di jalur selebar dua meter pada gawangan kebun sawit berumur 17 tahun di tanah seri Durian. Dosis 37,5 ton per hektare per tahun disusun satu lapis; dosis 75 ton disusun dua lapis. Peneliti mengamati bobot kering serta kandungan N dan K pada TKKS selama sepuluh bulan. Perlakuan juga mencakup beberapa dosis pupuk N berupa amonium sulfat dan K berupa kalium klorida, dengan aplikasi satu atau tiga kali setahun. Dengan rancangan ini, angka pelepasan hara mengacu pada TKKS yang ditaruh di lapangan pada kondisi tersebut, bukan langsung pada berapa banyak hara yang diserap tanaman.
Satu lapis cenderung lebih cepat kehilangan bobot kering daripada lapisan bawah dari susunan dua lapis. Sekitar separuh bobot kering hilang dalam tiga bulan pertama dan sekitar 70% setelah delapan bulan. Pupuk N mineral mempercepat kehilangan bobot kering secara signifikan pada susunan satu lapis, tetapi tidak menunjukkan efek signifikan yang sama pada lapisan atas maupun bawah susunan dua lapis. Penambahan pupuk K mineral tidak mengubah laju dekomposisi secara signifikan. Maka, laju pelapukan bukan angka tetap untuk setiap ketebalan tumpukan atau perlakuan pupuk.
Kalium bergerak lebih awal
Dalam percobaan sepuluh bulan tersebut, kandungan K yang tersisa pada TKKS turun cepat. Rata-rata sekitar 35% K telah terlepas setelah satu bulan, 70% setelah tiga bulan, dan 90% setelah enam bulan. Pada bulan kesepuluh, lebih dari 99% K awal telah terlepas dari bahan yang diamati. Penulis menjelaskan bahwa K mudah tercuci dari jaringan tandan oleh air hujan karena tidak terikat kuat pada struktur sel. Pelepasan dari TKKS ini tidak identik dengan seluruh K masuk ke akar: penelitian dekomposisi mengukur K yang tidak lagi berada pada tandan, bukan neraca lengkap penyerapan tanaman atau kehilangan dari sistem kebun.
Urutan waktu tersebut memberi alasan untuk tidak membiarkan TKKS lama tertahan sebelum disebar. Penulis penelitian 2000 menyarankan pengangkutan dari pabrik dan aplikasi di kebun dilakukan segera agar kehilangan K yang tidak perlu dapat ditekan. Ini adalah implikasi dari karakter K dalam TKKS yang mereka teliti, bukan takaran pemupukan universal. Kebutuhan tambahan pupuk K tetap bergantung pada kondisi kebun dan pengamatan hara, sementara penelitian ini sendiri juga menguji TKKS bersama pupuk anorganik.
Nitrogen masih tertahan, bukan otomatis hilang
Berbeda dengan K, peneliti tidak mendeteksi pelepasan N dari TKKS selama sepuluh bulan pengamatan, baik pada satu lapis maupun pada dua lapis. Kandungan N dalam tandan relatif bertahan meskipun bobot keringnya menurun. Artinya, persentase N dalam sisa bahan dapat terlihat naik tanpa berarti N sudah dilepas untuk tanaman. Para penulis mengaitkannya dengan kandungan N TKKS yang rendah dan kandungan lignin yang tinggi; N masih terikat dalam bahan yang terdekomposisi. Penambahan pupuk N atau K pada perlakuan itu juga tidak menunjukkan perubahan signifikan pada pelepasan N dari TKKS selama periode pengamatan.
Namun, “tidak terdeteksi dalam sepuluh bulan” tidak sama dengan “TKKS tidak pernah menyumbang N”. Dalam artikel 2002, penulis membahas kemungkinan N baru dilepas pada tahun kedua, ketika respons N daun terlihat dalam percobaan lapangan yang lebih panjang. Mereka menyajikannya sebagai penafsiran, bukan pengukuran langsung kapan dan berapa N dari TKKS berpindah ke tanaman. Kenaikan N daun pun dapat dipengaruhi lingkungan perakaran yang berubah serta pemberian N mineral. Karena itu, membaca kedua makalah bersama-sama lebih tepat daripada menyamakan N yang tersimpan dalam TKKS dengan pasokan N segera bagi sawit.
Apa yang berubah pada daun, tanah, dan panen?
Penelitian yang terbit pada 2002 menguji dosis TKKS nol, 37,5, dan 75 ton per hektare per tahun pada sawit berumur 17 tahun di tanah seri Durian. Pupuk N dan K diberikan pada beberapa tingkat dan frekuensi; semua perlakuan juga memperoleh fosfor serta magnesium. Pengukuran jaringan daun dan hasil dilakukan selama percobaan dua tahun, sedangkan sampel tanah diambil pada akhir percobaan pada kedalaman 0–15 dan 15–30 sentimeter. Dengan demikian, hasilnya adalah respons kombinasi perlakuan pada lokasi tertentu, bukan uji TKKS sebagai satu-satunya sumber semua unsur hara.
Pada kombinasi TKKS 37,5 ton per hektare per tahun dengan pupuk mineral 0,735 kilogram N dan 1,75 kilogram K per pohon per tahun, penulis melaporkan perbaikan kadar N dan K daun, jumlah serta bobot tandan, dan hasil tandan buah segar. Respons hasil pada tingkat perlakuan lebih tinggi tidak menunjukkan tambahan kenaikan signifikan dalam pembahasan mereka. Aplikasi TKKS juga meningkatkan K, kalsium, dan magnesium dapat ditukar di tanah, karbon organik, N total tanah, serta pH pada pengukuran yang dilaporkan. Namun kadar Mg daun justru menurun pada perlakuan TKKS; penulis membahas antagonisme antara K dan Mg. Hara tanah yang naik tidak berarti setiap hara daun ikut naik.
Frekuensi pemupukan satu dibanding tiga kali setahun tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kadar hara daun dan hasil dalam percobaan ini. Temuan tersebut dibatasi rancangan, umur sawit, tanah, dosis, dan rentang pengamatan yang digunakan; bukan alasan untuk mengubah jadwal pemupukan di semua kebun. Begitu pula, percobaan dua tahun tidak membuktikan efek hasil akan terus berulang pada setiap musim atau lokasi. Pembaca yang ingin menelusuri tulisan edukasi lain dapat melihat rubrik Wawasan GIMNI.
Pelajaran dari dua makalah ini terletak pada ketidaksamaan perilaku unsur hara. TKKS yang segera kembali ke gawangan melepas K lebih awal, tetapi N dalam tandan tetap tertahan selama jendela sepuluh bulan yang diukur. Manfaat tanah dan respons hasil dilaporkan ketika mulsa itu diuji bersama pupuk mineral, dengan perhatian khusus pada penurunan Mg daun. Angka dosis dan waktu dari kebun percobaan sebaiknya dipakai untuk memahami mekanisme dan batas bukti, bukan sebagai klaim bahwa TKKS menghapus kebutuhan seluruh pupuk atau menjamin kenaikan panen.
Sumber pantauan
- Lim, K. C. dan Zaharah, A. R. (2000). “Decomposition and N & K Release by Oil Palm Empty Fruit Bunches Applied under Mature Palms.” Journal of Oil Palm Research, 12(2), 55–62. https://jopr.mpob.gov.my/decomposition-and-n-k-release-by-oil-palm-empty-fruit-bunches-applied-under-mature-palms/
- Lim Kim Chiew dan Zaharah A. Rahman (2002). “The Effects of Oil Palm Empty Fruit Bunches on Oil Palm Nutrition and Yield, and Soil Chemical Properties.” Journal of Oil Palm Research, 14(2), 1–9. https://jopr.mpob.gov.my/the-effects-of-oil-palm-empty-fruit-bunches-on-oil-palm-nutrition-and-yield-and-soil-chemical-properties/