Indonesia harus bergerak cepat menjalankan peralihan dari energi berbahan fosil ke energi terbarukan. Jika tidak, di masa mendatang Indonesia akan terus menjadi konsumen yang bergantung pada negara lain. Hal itu akan mengancam ketahanan energi Indonesia.

“Kita harus dorong Indonesia agar segera beralih ke energi terbarukan. Memang tidak bisa instan, tetapi perlahan meninggalkan PLTU yang berbasis batu bara, minyak bumi, ataupun gas alam,” ujar Ketua Umum Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK Indonesia Network), Mahawan Karuniasa, dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Ia mengungkapkan, saat ini sebagian besar negara maju telah hampir 100% beralih ke energi terbarukan. Hal tersebut tampak pada penggunaan bahan bakar untuk pembangkit listrik dan berbagai peralatan kehidupan sehari-hari seperti kendaraan bermotor.

Pemerintah di era Presiden Joko Widodo, lanjut Mahawan, cukup berkomitmen mengembangkan energi terbarukan. Hal itu antara lain terlihat dari pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu. Namun, dari sisi anggaran, untuk pengembangan energi terbarukan, Indonesia masih tertinggal.

“Indonesia hanya menganggarkan 0,08% dari nilai APBN tiap tahun untuk riset energi terbarukan. Kita kalah dengan negara-negara tetangga ASEAN yang anggaran risetnya sudah cukup besar, berkisar l%-2%. Bagaimana mau maju jika untuk riset saja kita masih sulit?” kata dia.

Menurut Mahawan, strategi khusus pun diperlukan untuk merangsang pertumbuhan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Ia mencontohkan kerja sama dengan mitra global. Selain itu, pemerintah diminta memberi kemudahan regulasi agar investor dan pengusaha lokal mau berkontribusi dalam membangun energi terbarukan.

“Kita tidak mungkin tidak kerja sama karena energi terbarukan- memang bukan barang mudah. Apalagi kita masih kesulitan bahan. Panel surya saja kita belum bisa produksi sendiri,” pungkasnya.

 

Sumber: Media Indonesia