,

Warga Desa Penatarseru Mengolah Limbah Jadi Panen Uang

Menjaga kelestarian alam dan lingkungan tidak hanya menjadi tugas pemerintah semata, tetapi juga pelaku usaha dan masyarakat. Apalagi, keletarian alam sendiri akan diwariskan kepada anak cucu. Sebut saja, sisa minyak minyak goreng atau jelantah adalah limbah yang mudah ditemukan dan dibuang begitu saja. Minyak jelantah jadi persoalan kompleks, acap kali tak diperhatikan warga. Di banyak tempat-seperti restoran cepat saji-minyak jelantah dicampur bersama bahan kimia agar beku hingga mudah dibuang. Di tempat pembuangan akhir, minyak beku terkena paparan matahari dan mencair.

Ada juga restoran yang dikelola perusahan hotel jadikan minyak sisa tak terbuang, melainkan dijual kembali. Melaui jaringan limbah itu jadi minyak kiloan, tersebar bahkan ke warung di pinggiran jalan. Maka dalam rangka meningkatkan kepedulian dan mewujudkan lingkungan yang bebas dari pencemaran lingkungan, PT Pertamina Gas Operation East Java mengenalkan, konsep zero waste (bebas limbah) kepada warga desa Penatarsewu atau dikenal sebagai kampung ikan asap Sidoarjo, Jawa Timur untuk mengatasi kendala mengelola limbah minyak jelantah sisa produksi Resto Seba dan rumah tangga di desa binaan PT Pertagas tersebut.

Pertagas juga menggandeng kader PKK Desa Penatarsewu dan desa Kalitengah, Tanggulangi Sidoarjo, untuk mengadakan pelatihan pengelolaan minyak jelantah menjadi produk bermanfaat seperti sabun dan lilin,”Edukasi dan pelatihan ini bekerja sama dengan Akademi Minim Sampah, Sidoarjo,” kata Manager Communicau\’on, Relation CSR PT Pertagas, Zainal Abidin dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Zainal Abidin menuturkan bahwa antusias warga dalam menerapkan gaya hidup zero waste patut didukung.”Kemampuan mengolah limbah rumah tangga menjadi produk lain seperti sabun dan lilin ini berpotensi menjadi sumber pendapatan lain bagi warga di Penatarsewu dan Kalitengah tersebut,” kata Zainal.

Minyak jelantah merupakan minyak bekas pemakaian, bisa dalam kebutuhan rumah tangga, kebutuhan restoran dan lain lain. Minyak ini meliputi minyak sawit dan segala minyak goreng lainnya. Bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik yang terjadi selama proses penggorengan.”Jadi minyak jelantah yang dipakai berkali-kali dapat merusak kesehatan tubuh kita, misalnya timbul berbagai penyakit seperti kanker,”ujarnya.

Ketua PKK Desa Penatarsewu, Nurul Huda menuturkan bahwa selama ini warga di desa Penatarsewu atau kampung ikan asap, belum mengetahui jika minyak goreng yang sudah beberapa kali dipakai itu, bisa dimanfaatkan limbahnya.”Di sini kami terbiasa membuang atau diserahkan ke penampung jika minyak goreng sudah beberapa kali dipakai. Dengan adanya pelatihan mengolah jelantah ini, diharapkan kami bisa memanfaatkan puluhan liter minyak menjadi sabun detergen atau cuci tangan,” tuturnya.

Peluang Penghasilan

Lain halnya di desa Kalitengah, warga di desa yang berdekatan dengan kawasan lumpur Sidoarjo ini mengaku telah memanfaatkan jelantah sebagai peluang penghasilan.”Kami biasa mengumpulkan jelantah dari beberapa RT, lalu kami jual ke pabrik untuk dimanfaatkan sebagai biodiesel melalui pengepul. Alhamdulillah hasil penjualan dapat dimanfaatkan untuk kas PKK,” ujar Iftatus Solichah, selaku perwakilan anggota PKK Desa Kalitengah.

Menurutnya, kegiatan edukasi dari Pertagas ini mampu membuka wawasan warga untuk berkreasi dan lebih produktif lagi. Vivi Sofiana, selaku pemateri dari Akademi Minim Sampah mengatakan proses pengolahan jelantah menjadi sabun dan lilin tergolong murah dari segi ketersediaan bahan dan mudah untuk dipraktikkan.”Cukup sediakan jelantah mulai dari 250 ml, setengah sendok teh gula, beberapa gram soda api, air pandan, dan beberapa bahan pelengkap lainnya. Setelah itu dipanaskan lalu diaduk, dan ditempatkan dalam sebuah cetakan sesuai selera,”katanya.

Vivi menambahkan proses pembuatan dibuat mudah dan menarik agar ibu-ibu tidak kerepotan ketika menerapkan di rumah. “Tujuan kami agar mulai tumbuh kesadaran warga untuk mengolah limbah rumah tangga menjadi lebih bernilai guna,” pungkasnya. Sebagai informasi, menurut data Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), total pasar minyak goreng di Indonesia pada 2018 berkisar 4,6 juta ton. Angka itu bisa meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan masyarakat. Sayangnya semakin besar penggunaan minyak goreng makin besar pula limbah minyak goreng bekas pakai yang akan dihasilkan. Limbah ini banyak dibuang masyarakat secara sembarang yang berakibat buruk pada lingkungan, 14 padahal jika di daur ulang limbah ini * 1 £=J bisa bermanfaat

Hai inilah yang dilakukan warga desa Panggungharjo, Bantul, Yogyakarta. Limbah sampah dan minyak goreng dirasa makin bertambah seiring pesatnya pertumbuhan pemukiman di perdesaan. Untuk mengatasi masalah itu, Pemerintah Desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menggelar musyawarah desa sebanyak dua kali. Pada pertemuan tersebut dibahas pengembangan bentuk usaha BUMDes yang tidak terpaku pada pengelolaan sampah, tapi juga gagasan untuk mengolah limbah minyak goreng rumah tangga yang sering dibuang warga ke sungai. Hasilnya, kini Pemerintahan Desa Panggungharjo, warga dan BUMDesnya Panggung Lestari sudah mampu melakukan pengolahan sampah dengan baik sehingga menjadi bisnis yang menghasilkan bagi desa.

 

Sumber: Harian Ekonomi Neraca