Oleh Redaksi GIMNI | Februari 2026
Minat investasi China terhadap industri kelapa sawit Indonesia terus menguat. Hal ini diungkapkan oleh Sahat M. Sinaga, Plt. Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) sekaligus Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), usai kembali dari kunjungan ke China beberapa waktu lalu.
Menurut Sahat, penjajakan kerja sama dengan pihak China sudah berlangsung selama dua tahun terakhir. Fokus utama ketertarikan China bukanlah semata pada pasokan minyak goreng, melainkan pada dua hal yang lebih strategis: perdagangan karbon dan pengembangan teknologi pengolahan minyak sawit generasi baru.
China Serius Soal Emisi Karbon
Sebagai penghasil emisi karbon terbesar di dunia, China memiliki kepentingan besar dalam mengakuisisi kredit karbon dari negara lain. Indonesia, dengan luasan perkebunan sawit rakyat yang masif, dipandang sebagai sumber potensial yang sangat menjanjikan.
"Mereka sangat tertarik kepada petani, mereka tidak begitu tertarik kepada perusahaan-perusahaan besar, karena memang critical issue kita itu adalah di perkebunan sawit petani," ujar Sahat.
DMSI memproyeksikan bahwa dalam kurun enam hingga tujuh tahun ke depan — atau hingga 2032 — Indonesia berpotensi menurunkan emisi karbon hingga 50 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun jika pengembangan teknologi baru di sektor perkebunan petani berhasil dijalankan. Keseriusan kerja sama ini telah ditandai dengan penandatanganan MoU antara Bappenas dan CSES dari China.
Foto 1: Sahat M. Sinaga, Plt. Ketua Umum DMSI sekaligus Direktur Eksekutif GIMNI, saat menjadi narasumber dalam program Squawk Box di studio CNBC Indonesia, membahas rencana kerja sama investasi China di industri kelapa sawit nasional, termasuk pengembangan teknologi DPMO dan perdagangan karbon kredit.Era Baru: Selamat Tinggal CPO, Selamat Datang DPMO
Salah satu poin paling menarik yang disampaikan Sahat adalah usulan perubahan nama produk unggulan sawit Indonesia. Ia menegaskan bahwa istilah Crude Palm Oil (CPO) sudah saatnya ditinggalkan.
"Kenapa tidak ada crude soya bean, crude sunflower, crude olive oil, dan kenapa hanya CPO sebagai palm oil dikasih crude?" tegasnya. Kata crude dinilai mencerminkan kualitas rendah (inferior quality), dan justru menjadi hambatan persepsi di pasar global, termasuk di kalangan Generasi Z.
Sebagai gantinya, Sahat memperkenalkan istilah DPMO — Degum Palm Mesocarp Oil. Penamaan ini mengikuti logika yang sudah lazim digunakan dalam industri, seperti Palm Kernel Oil untuk minyak inti sawit. DPMO diklaim memenuhi tiga kriteria unggulan: nutrisi tinggi, emisi karbon rendah, dan stabil terhadap oksidasi — menjadikannya secara kualitas melampaui CPO konvensional, bahkan disebut sebanding atau melebihi olive oil.
Investasi Rp 180 Triliun untuk Kebun Petani
Untuk mewujudkan potensi tersebut, dibutuhkan investasi yang tidak kecil. Sahat menyebut angka antara Rp 100 hingga Rp 180 triliun hanya untuk merehabilitasi perkebunan sawit rakyat. Dari total 6,8 juta hektar kebun sawit petani, sekitar 34 persen atau 2,4 juta hektar diidentifikasi perlu direhabilitasi menurut data APKASINDO.
Rehabilitasi ini diharapkan mampu mendongkrak produktivitas dari rata-rata 9,2 ton TBS per hektar per tahun menjadi 26 ton per hektar per tahun — sebuah lompatan yang signifikan. Di samping manfaat ekonomi, program ini juga dinilai sebagai bentuk nyata poverty alleviation bagi jutaan petani sawit Indonesia.
Penutup
Kerja sama Indonesia–China di sektor sawit ini membuka babak baru yang melampaui sekadar perdagangan komoditas. Dengan pendekatan berbasis teknologi hijau, penghargaan terhadap kualitas produk, dan perhatian serius pada kesejahteraan petani, Indonesia berpeluang memposisikan diri lebih kuat di peta industri minyak nabati global.
GIMNI terus mendukung setiap langkah strategis yang membawa nilai tambah bagi industri minyak nabati nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional.
Artikel ini disarikan dari wawancara Sahat M. Sinaga, Plt. Ketua Umum DMSI dan Direktur Eksekutif GIMNI, di CNBC Indonesia.
China Lirik Investasi Besar di Sawit Indonesia: DPMO dan Karbon Kredit Jadi Daya Tarik Utama
Oleh Redaksi GIMNI | Februari 2026