Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia menilai peningkatan produktivitas petani plasma dan swadaya menjadi kunci untuk menjaga pasokan sawit nasional di tengah pertumbuhan permintaan domestik dan pasar ekspor.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan industri sawit berulang kali menjadi penyangga perekonomian nasional melalui penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Dalam 9th Borneo Forum 2026 di Balikpapan pada 5–8 Agustus, ia menyebut devisa sawit pada masa pandemi mencapai sekitar US$39,2 miliar.
GAPKI menempatkan kebun rakyat sebagai bagian penting dalam menjaga produksi nasional. Salah satu langkah yang didorong ialah percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan.
Program PSR disebut dapat meningkatkan produktivitas melalui penggunaan benih unggul, penerapan teknologi, dan pendampingan petani. Penguatan produktivitas dinilai diperlukan ketika kebutuhan bahan baku untuk pasar domestik dan ekspor terus berkembang.
Data Badan Pusat Statistik yang dikutip Republika menunjukkan nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari–Februari 2026 mencapai US$4,69 miliar, naik 26,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$3,71 miliar. Volume ekspor meningkat dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton.
Berdasarkan rilis GAPKI pada 13 Maret 2026, produksi CPO Indonesia sepanjang 2025 mencapai 51,66 juta ton, meningkat 7,26 persen. Total produksi CPO dan minyak inti sawit atau PKO naik 7,18 persen menjadi 56,55 juta ton.
Perkembangan harga acuan perdagangan sawit dapat dilihat melalui data harga referensi CPO GIMNI.
Sumber pantauan
Republika — Ekspor CPO Meningkat, GAPKI Dorong Peremajaan Kebun Rakyat, 10 Agustus 2026.