Kemenristek Dukung Inovasi Biofuel Sawit

JAKARTA-Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) atau Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan dukungan terhadap pengembangan inovasi bahan bakar nabati (BBN/biofuel) yang berbahan minyak sawit hasil kolaborasi ITB dan Pertamina. Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan, bahan bakar nabati berbasis sawit akan menjadikan perekonomian Indonesia bergerak lebih cepat dan dapat meminimalisasi dampak perlambatan ekonomi yang kini mulai melanda banyak negara di dunia. “Karena itu kita wajib memberikan apresiasi kepada para semua pihak yang terlibat dalam menelurkan inovasi tersebut,” katanya.

Bambang mengatakan hal itu saat memberikan sambutan dalam seminar daring The Development of Biofuels Indonesia-Brasil. Pertamina dan ITB berhasil memproduksi green diesel DWO dari 100% Refined Bleached Deodorizedpalm oil(RBD PO) yang di-cracking menggunakan katalis merah putih hasil pengembangan ITB dan Pertamina dengan kelapa sawit berkapasitas 1.000 barel per hari. Dengan demikian dapat membantu kebutuhan bahan bakar fosil dalam negeri yang sangat tinggi yakni mencapai 1.790.000 barrel per hari. “Bahan bakar minyak sawit merupakan komoditas sumber daya alam terbarukan di Indonesia yang jumlahnya berlimpah. Biofuel juga memberi peluang terhadap pemberdayaan petani sawit rakyat dalam industri bahan baku biohidrokarbon, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka,” papar dia seperti dilansir Antara.

Penggunaan bahan bakar green diesel D100 pada kendaraan tidak akan menurunkan kinerja mesin atau menuntut dilakukan modifikasi tertentu pada mesin sebagaimana yang terjadi pada kendaraan yang menggunakan bahan bakar biodiesel B30 yang berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Sementara itu, Pit Deputi Bidang Penguatan Inovasi Kemenristek/BRIN Jumain Appe menyampaikan, seminar daring tersebut untuk mengetahui cara Brasil dalam mengimplementasikan kebijakan pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis tebu. Brasil akan menyajikan teknologi yang digunakan didalam memproduksi bahan bakar nabati. “Kita belajar bagaimana cara Brasil membuat kebijakan penentuan harga tebu dan gula. Dengan demikian Indonesia dapat tips membuat regulasi dalam penentuan harga sawit dan minyak sawit. Setelah industri bahan bakar nabati sudah stabil, Brasil pun bersedia membeli bahan bakar milik kita,” ujar dia.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia