Palm Oil Today

Mutu Tanah Kebun Sawit: Mengapa Satu Jenis Pengelolaan Tidak Cocok untuk Semua Lahan?

29 Oct 2026

Tiga baki berisi contoh tanah dengan warna dan tekstur yang tampak berbeda, tersusun berdampingan.

Mutu tanah di kebun sawit tidak bisa disimpulkan dari satu angka, apalagi dari warna permukaan tanah. Penelitian Widyatmani Sih Dewi dan rekan-rekan pada kebun di Kotawaringin Timur dan Seruyan, Kalimantan Tengah, memperlihatkan perbedaan indikator fisik, kimia, dan biologi pada empat kelompok tanah. Sementara itu, sebuah tinjauan terpisah oleh Fui Ying Tsan membahas tanaman penutup tanah kacang-kacangan di kebun sawit Malaysia. Keduanya berguna untuk membaca pilihan pengelolaan, tetapi bukan percobaan yang sama dan tidak membuktikan bahwa satu resep cocok di semua tempat.[1][2]

Tiga baki berisi contoh tanah dengan warna dan tekstur yang tampak berbeda, tersusun berdampingan.

Apa yang sebenarnya diukur di Kalimantan Tengah?

Penelitian yang berlangsung pada Juli–Desember 2024 itu mengambil sampel di kebun sawit pada Histosols, Ultisols, Inceptisols, dan Entisols, masing-masing enam ulangan. Titiknya dipilih secara sengaja di dua kabupaten, bukan diambil untuk mewakili seluruh kebun sawit Indonesia. Pengambilan dilakukan di antarbaris tanaman, menjauhi tepi parit dan tanah timbunan; profil tanah dideskripsikan hingga kedalaman 60 sentimeter. Peneliti kemudian mengukur antara lain pH, karbon organik tanah, unsur hara tersedia, kapasitas tukar kation, kerapatan tanah, porositas, serta karbon biomassa mikroba.[1]

Dari pengukuran itu mereka menyusun indeks mutu tanah atau soil quality index (SQI) melalui pemilihan indikator dan pembobotan statistik. Angka SQI bukan ukuran langsung hasil panen ataupun perintah dosis pemupukan. Histosols mencatat 0,245 dan diklasifikasikan rendah; Ultisols 0,178, Inceptisols 0,180, serta Entisols 0,182 tergolong sangat rendah menurut ambang yang dipakai makalah tersebut. Perbedaan SQI antarkelompok tanah dinyatakan signifikan, tetapi angka itu tetap melekat pada lokasi, cara pengambilan sampel, dan metode indeks penelitian ini.[1]

Angka tinggi pada satu indikator bukan berarti lahan lebih layak

Histosols memiliki karbon organik dan kapasitas tukar kation yang lebih tinggi dalam sampel ini. Namun penulis secara tegas memperingatkan bahwa SQI Histosols yang relatif paling tinggi tidak sama dengan kesesuaian agronomis terbaik untuk sawit. Keasaman, kejenuhan basa rendah, aerasi dan daya dukung tanah, serta kerentanan terhadap amblesan dan kebakaran tetap menjadi batas penting pada tanah gambut. Karena itu, perbandingan skor antara tanah mineral dan gambut perlu dibaca dengan hati-hati, bukan sebagai peringkat lahan untuk perluasan tanam.[1]

Pada lokasi penelitian, fosfor tersedia dilaporkan rendah, sementara nitrogen total pada tiga kelompok tanah mineral berada di bawah ambang kecukupan yang dijadikan rujukan penulis. Analisis regresi mereka memilih karbon organik tanah, magnesium dapat dipertukarkan, dan fosfor tersedia sebagai tiga indikator yang paling menjelaskan variasi SQI dalam data tersebut. Itu adalah hubungan statistik pada sampel, bukan bukti bahwa menaikkan ketiganya dengan takaran tertentu otomatis menaikkan hasil tandan buah segar di kebun lain. Bahkan unsur yang menjadi indikator indeks tidak boleh diperlakukan sebagai diagnosis tunggal tanpa kondisi air, tanah, dan tanaman setempat.[1]

Dari hasil pengamatan ke usulan pengelolaan

Berangkat dari temuan itu, penulis makalah Kalimantan Tengah mengusulkan pemanfaatan residu sawit sebagai mulsa atau bahan olahan, misalnya kompos, biochar, dan pupuk hayati, serta kemungkinan menggabungkan biomassa gulma untuk mendukung ketersediaan hara. Mereka juga mengingatkan rasio karbon terhadap nitrogen bahan residu yang tinggi: pengomposan sebelum pembenaman menjadi pertimbangan, bukan sekadar menambah bahan mentah tanpa menilai prosesnya. Ini merupakan rekomendasi peneliti, bukan perlakuan yang diuji dan terbukti memperbaiki SQI pada empat kelompok tanah dalam percobaan tersebut. Penulis sendiri meminta penelitian lanjutan tentang takaran bahan organik yang optimal.[1]

Perbedaan antara observasi dan saran itu penting. Sampel menunjukkan karakter tanah dan keterbatasan hara pada dua wilayah studi; makalah tidak menetapkan dosis pupuk nasional, tidak menguji efektivitas kompos versus biochar pada kebun-kebun tersebut, dan tidak memberi izin untuk mengabaikan risiko hidrologis gambut. Saat menafsirkan hasilnya bagi satu petak, identifikasi kelompok tanah dan pemeriksaan indikator setempat tetap lebih relevan daripada menyalin angka indeks sebagai label permanen.[1]

Apa yang dapat—dan tidak dapat—dipetik dari ulasan Malaysia?

Tsan menulis review tentang tanaman penutup tanah legum di kebun sawit Malaysia, bukan laporan uji lapangan di dua kabupaten Kalimantan Tengah tadi. Ulasannya menerangkan potensi penutup hidup untuk menahan erosi, menjaga kelembapan, menambah bahan organik, menekan gulma, dan memasok nitrogen melalui simbiosis akar dengan bakteri rhizobia. Potensi itu bergantung pada pertumbuhan penutup, ketersediaan benih yang layak, kecocokan spesies, dan pemeliharaan di lokasi; tidak boleh dibaca sebagai jumlah penghematan pupuk yang pasti di Indonesia.[2]

Pilihan spesies dalam ulasan pun tidak seragam. Calopogonium mucunoides dilaporkan lebih mampu tumbuh pada lokasi yang agak asam dibanding beberapa legum lain, tetapi kurang tahan naungan. Calopogonium caeruleum dan Centrosema pubescens lebih toleran terhadap naungan, meski pertumbuhan awalnya lambat. Mucuna bracteata menghasilkan penutupan yang agresif, namun sulurnya dapat memanjat sawit muda dan menuntut pengendalian. Tinjauan itu juga membahas mutu, penyimpanan, dan skarifikasi benih—lapisan pekerjaan yang kerap luput ketika penutup tanah diperlakukan sebagai satu jenis input sederhana.[2]

Penulis ulasan meminta riset lebih lanjut untuk lokasi bermasalah seperti gambut atau tanah sangat asam. Dengan demikian, manfaat umum legum di Malaysia tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa legum tertentu sudah terbukti memperbaiki SQI Histosols, Ultisols, Inceptisols, atau Entisols pada penelitian Kalimantan Tengah. Sebagai konteks mengenai tutupan lahan, GIMNI pernah mengulas praktik konservasi tanah dan air di kebun sawit; keputusan untuk satu kebun tetap memerlukan pembacaan kondisi setempat, bukan identifikasi jenis tanah dari foto.[1][2]

Sumber pantauan

  • [1] Widyatmani Sih Dewi dkk., “Evaluating Soil Quality Across Multiple Soil Types for Sustainable Oil Palm Plantations in Central Kalimantan, Indonesia,” Journal of Oil Palm Research, terbit daring 2026. https://jopr.mpob.gov.my/evaluating-soil-quality-across-multiple-soil-types-for-sustainable-oil-palm-plantations-in-central-kalimantan-indonesia/
  • [2] Fui Ying Tsan, “Leguminous Cover Crops in Malaysian Oil Palm Fields: The Species, Seed Technology, Field Practices and Future Trends,” Journal of Oil Palm Research, terbit daring 2025. https://jopr.mpob.gov.my/leguminous-cover-crops-in-malaysian-oil-palm-fields-the-species-seed-technology-field-practices-and-future-trends/